Korban Kedua Dugaan Penembakan Disertai Pembacokan di Lokasi PETI Popayato Barat Ditemukan, Kondisinya Mengenaskan

WARTANESIA – Korban insiden kekerasan di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kecamatan Popayato Barat bertambah. Seorang pemuda berinisial RM, warga Desa Dudewulo, yang sebelumnya dikabarkan hilang, kini telah ditemukan.

RM ditemukan dalam kondisi luka parah akibat sabetan senjata tajam di bagian leher, yang nyaris membuat nyawanya melayang. Beruntung, korban berhasil diselamatkan dan saat ini tengah dirujuk ke RSUD Bumi Panua Pohuwato untuk mendapat penanganan medis lanjutan.

banner 468x60

Dengan temuan ini, total korban kekerasan yang diduga dilakukan oleh pria berinisial L, bertambah menjadi dua orang, yaitu AL dan RM. AL sebelumnya dilaporkan mengalami luka bacok serius di tangan kanan.

Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 04.00 WITA di pondok pekerja tambang Kilometer 18, wilayah Popayato Barat. Berdasarkan keterangan saksi, pelaku L datang dengan ekspresi marah dan langsung mencari seseorang bernama Utun.

“Saat itu torang (kami) lagi tidur. Dia datang tanya, ‘Mana yang namanya Utun?’ Kami tunjuk ke arah sana,” tutur salah satu rekan korban kepada awak media.

Utun, yang ternyata kerabat dari korban AL, segera melarikan diri saat mengetahui dirinya jadi incaran. Pelaku bahkan sempat menembakkan senapan ke arah Utun, namun gagal mengenai sasaran. Frustrasi karena targetnya berhasil kabur, L kemudian membacok AL yang masih berada di dalam pondok.

Latar Belakang Dendam Lama

Menanggapi peristiwa ini, Kepolisian Resor Pohuwato akhirnya angkat bicara. Dalam keterangan resmi yang disampaikan oleh Bripka Dersi Akim dari Humas Polres Pohuwato, Rabu (18/6), aksi kekerasan tersebut diduga dilatarbelakangi oleh dendam lama yang berasal dari peristiwa tahun 2004.

“Dulu L pernah melakukan penganiayaan terhadap orang tua Utun, yang menyebabkan korban mengalami cacat permanen. Saat itu Utun masih kecil, lalu merantau ke Papua selama 10 tahun. Kini setelah dewasa, Utun diduga hendak membalas dendam,” ujar Dersi.

Rencana pembalasan ini diduga terdengar oleh L. Merasa terancam, L langsung mendatangi lokasi PETI untuk mencari Utun. Namun, saat tiba di kamp tempat Utun biasa beristirahat, ia tidak menemukan yang bersangkutan.

“Karena tidak menemukan Utun, pelaku membabi buta dan membacok dua orang yang berada di lokasi. Satu korban luka di tangan, satu lagi di bagian leher dan kepala bawah,” tambahnya.

Polres Pohuwato juga menyebut bahwa dari sembilan orang yang berada di pondok, delapan sudah ditemukan, sementara satu orang lainnya masih dalam pencarian.

Polisi Intenskan Penyelidikan

Terkait laporan dugaan penembakan oleh pelaku, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam. Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni, ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa kasus ini sedang ditangani secara intensif oleh tim di lapangan.

“Anggota masih berada di TKP. Saat ini dalam proses penyelidikan. Informasi lebih lanjut akan kami sampaikan dalam rilis berikutnya,” ucapnya singkat via pesan WhatsApp.

Peristiwa ini kembali menyoroti problematika serius di lokasi tambang ilegal Popayato Barat, yang tak hanya menjadi ladang eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga kerap memicu konflik dan kekerasan.

Pihak kepolisian pun mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi dan menunggu hasil penyelidikan resmi, sembari terus meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas ilegal yang berpotensi menimbulkan kerawanan keamanan.