WARTANESIA – Persoalan penutupan sejumlah toko jual beli emas di Kabupaten Pohuwato menuai keluhan dari masyarakat, khususnya para penambang yang menggantungkan mata pencaharian dari hasil tambang emas.
Sejumlah warga mengaku kebingungan karena tidak ada lagi tempat menjual emas hasil tambang mereka, sementara kebutuhan jelang Hari Raya Idulfitri semakin mendesak.
Yuriko Dai menyampaikan keresahannya. Ia mengaku tidak tahu harus mengadu ke siapa atas kondisi yang terjadi saat ini.
“Kami bingung pak, harus mengeluh ke siapa. Mata pencaharian kami cuma menambang. Sekarang emas tidak ada yang beli, sementara sebentar lagi sudah mau lebaran. Mau bayar zakat fitrah dan beli baju baru untuk anak-anak tidak tahu mau ambil uang dari mana pak,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Kisman Hamid, warga Buntulia Tengah. Ia mengaku sejak pagi berkeliling untuk menjual emas, namun tidak ada satu pun toko yang bersedia membeli.
“Sudah dari pagi kami keliling bawa emas untuk dijual, tapi tidak ada yang mau beli pak. Toko pembeli semua tutup,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento, mengatakan bahwa pihaknya turut memberi perhatian serius terhadap persoalan ini. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang beredar di media, terdapat kasus di Surabaya yang diduga berdampak luas terhadap aktivitas jual beli emas di sejumlah daerah.
“Jadi begini, torang juga rasa perhatian seperti itu. Setelah kami cek di media online maupun televisi, ternyata ada kasus di Surabaya. Nah, kasus itu bisa berefek ke seluruh daerah, baik ke Makassar maupun Gorontalo, mungkin karena satu jaringan atau satu bos,” jelasnya.
Menurutnya, penangkapan yang terjadi di Surabaya membuat para pembeli emas di berbagai daerah menjadi waswas. Padahal, di Gorontalo sendiri tidak ada persoalan yang terjadi secara langsung.
“Karena sudah ada ancaman-ancaman terkait jual beli emas ilegal yang tidak ada izin dan sebagainya, jadi hampir rata-rata semua takut. Gorontalo padahal tidak ada apa-apa,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pihaknya menerima informasi tentang sulitnya masyarakat menjual emas. Bahkan, di media sosial beredar unggahan warga yang menawarkan emas untuk ditukar dengan beras maupun kebutuhan pokok lainnya.
“Sekitar tiga hari lalu sudah kami dengar, setengah mati masyarakat mau jual emas. Di media sosial juga ada yang menukar emas dengan beras dan lain-lain,” katanya.
Terkait langkah yang akan diambil, Beni Nento menyebut pihaknya sedang melakukan komunikasi dan diskusi, termasuk dengan pihak terkait di Jakarta, guna mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Ini sementara kami diskusikan, kebetulan kami ada di Jakarta dan akan membahas hal ini dengan Pak Syarif. Termasuk soal jual beli emas ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa DPRD akan berupaya mencarikan solusi, khususnya menyangkut penyebab para pembeli emas tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.
“Persoalannya sekarang, kenapa pembeli emas itu tiba-tiba berhenti? Dari situ torang harus cari tahu dan mencarikan solusinya. Karena ini bukan hanya di Pohuwato, dari Hulawa sampai seluruh Gorontalo, bahkan Makassar juga demikian,” jelasnya.
Dengan kondisi mayoritas penambang yang beragama Islam dan akan menghadapi Idulfitri, DPRD dan pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah cepat agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan dan kebutuhan jelang lebaran bisa terpenuhi.













