Pengakuan Dokter RS Siti Khadijah : Saya Didorong, JT Ancam Bakar Rumah Sakit

WARTANESIA.ID — Insiden dugaan tindak kekerasan terjadi di Rumah Sakit (RS) Siti Khadijah, Kota Gorontalo, pada Sabtu dini hari (12/9/2026).

Seorang dokter, dr. Rifki, mengaku menjadi korban tindakan agresif seorang pria berinisial JT yang disebut mengaku sebagai wartawan media online.

Kepada wartawan, dr. Rifki mengungkapkan kronologi kejadian yang berlangsung saat dirinya tengah menjalankan tugas malam.

Pada malam itu, dr. Rifki bertugas mulai pukul 21.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB keesokan harinya. Sekitar pukul 00.20 WIB, ia bersama tim perawat mendengar suara gaduh cukup keras dari area tengah rumah sakit.

Rasa penasaran membuat dr. Rifki bersama sejumlah perawat keluar untuk melihat sumber keributan tersebut.

Sesampainya di lokasi, dr. Rifki mengaku melihat JT dalam kondisi emosional dan berperilaku agresif. Menurutnya, JT sempat melempar meja serta memukul-mukul kursi.

Dr. Rifki kemudian berupaya meredakan situasi dengan mengajak JT berbicara dan menanyakan persoalan yang sedang dipermasalahkan.

Namun, upaya tersebut justru disebut membuat situasi semakin tegang. Menurut dr. Rifki, JT melakukan perlawanan hingga dirinya sempat didorong.

“Beliau berusaha untuk melakukan perlawanan kepada saya, dan saya sempat didorong oleh beliau. Alhamdulillah, saya masih bisa berdiri tegak,” ungkap dr. Rifki.

Akibat kejadian tersebut, dr. Rifki mengaku mengalami memar pada bagian tangan. Meski tidak mengalami luka serius, kondisi tersebut disebut sempat membuatnya kesulitan bergerak dan berkoordinasi ketika memberikan pelayanan kepada pasien.

Selain tindakan fisik, dr. Rifki juga mengaku mendapat kata-kata kasar dan intimidasi selama kejadian berlangsung. Ia menyebut JT memperkenalkan dirinya sebagai seorang jurnalis.

Menurut dr. Rifki, dalam situasi tersebut JT juga sempat mengeluarkan ancaman terhadap rumah sakit.

“Beliau juga sempat mengancam akan membakar rumah sakit, seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu,” jelas dr. Rifki.

Setelah situasi mulai mereda, dr. Rifki kemudian berusaha mengetahui persoalan yang menjadi keberatan JT.

Dari komunikasi tersebut, persoalan disebut berkaitan dengan tindakan medis yang tidak dilakukan terhadap salah seorang pasien anak.

Dr. Rifki menjelaskan bahwa pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) tetap dilakukan melalui pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi pasien.

Namun, penjelasan tersebut disebut belum dapat diterima oleh JT yang tetap mempertanyakan tindakan medis terhadap pasien tersebut.