Tangis di Tengah Gulita: Cerita Pilu dari Tuweya yang Disapu Banjir Bandang

Suara gemuruh itu datang seperti mimpi buruk yang tak diundang. Malam belum terlalu larut saat langit di atas , , mendadak mencekam pada Jumat, 20 Juni 2025 malam. Tak ada tanda-tanda peringatan, hanya hujan yang turun sejak sore hari, seperti biasanya. Tapi malam itu, alam punya rencana lain.

Air bah turun dari arah perbukitan, membawa serta lumpur, batu, dan potongan pohon, melibas apa pun yang dilaluinya. itu datang terlalu cepat. Warga tak punya cukup waktu untuk menyelamatkan barang berharga, apalagi menyelamatkan rumah-rumah mereka. Yang sempat dilakukan hanyalah lari—lari ke arah bukit, dalam gelap, dalam panik.

banner 468x60

Di tengah kekacauan itu, terdengar suara paling memilukan malam itu: teriakan minta tolong dari sebuah rumah yang perlahan terbawa arus. Beberapa warga mencoba mendekat, namun arus terlalu deras, terlalu berbahaya. Tidak ada yang bisa dilakukan. Mereka hanya bisa berharap, dan menunggu pagi datang membawa keajaiban.

Sayangnya, pagi itu justru membawa kabar duka. Dua dari empat penghuni rumah yang berteriak malam sebelumnya ditemukan sudah tak bernyawa keesokan paginya, terjebak di balik reruntuhan rumah. Mereka adalah Ance Mamu (40) dan keponakannya, Laras Lakoro (15). Tubuh mereka ditemukan sudah kaku seolah menggambarkan betapa kuat usaha keudanya untuk menyelamatkan diri.

Di Tengah Kehancuran, Ada Harapan yang Tersisa

Total, 48 rumah warga rusak, 7 di antaranya hancur tanpa sisa. Tiang listrik tumbang, jalan aspal terkelupas, dan belasan ternak mati hanyut. Tidak hanya rumah dan harta benda yang hilang, Kantor Desa Tuweya pun luluh lantak. Seluruh arsip desa, dokumen kependudukan, data tanah, catatan pelayanan—semuanya lenyap.

“Semua hancur, Pak. Administrasi tidak ada lagi yang bisa diselamatkan, termasuk dokumen-dokumen penting,” ucap Kepala Desa Tuweya, Daud S. Adam, Minggu (22/6/2025).

Tuweya Bukan Satu-satunya

Data terbaru mencatat, 181 jiwa dari 50 KK terdampak di Desa Tuweya. Namun bukan hanya Tuweya yang menangis malam itu. Desa Bohusami dan Polambane di Kecamatan Wanggarasi, Sidorukun di Randangan, serta Lemito di Kecamatan Lemito juga dilaporkan diterjang banjir, meski tak separah Tuweya.

Pemerintah bersama instansi terkait kini berada di lokasi, membawa bantuan darurat: makanan, obat-obatan, selimut.

Reruntuhan Menyisakan Asa

Meski bencana telah menyisakan cerita duka, ada satu hal tak ikut hanyut, asa. Asa dan semangat gotong royong penuh kekuatan hati warga Tuweya. Setiap pagi, mereka membersihkan puing, berbagi makanan, dan saling menguatkan. Anak-anak mulai tersenyum kembali, meski kecil, meski masih ragu.

Bagi warga, terutama anak-anak, luka itu tak mudah sembuh. Tidak ketika mereka harus tidur di tenda darurat, dan setiap suara hujan menjadi pemicu rasa takut baru.

Tuweya mungkin berduka, tapi dari puing-puing yang tersisa, tampak ada harapan sedang ditanam ulang—bersama air mata, doa, dan tekad untuk bangkit lagi.

Karena sebagaimana yang selalu diyakini masyarakat desa itu: rumah bisa dibangun kembali, tapi kekuatan untuk berdiri—itu datang dari hati yang tidak menyerah. (Penulis ; G. Latarawe)

Baca berita kami lainnya di