Camp Penambang Dibongkar Lagi, AHS Desak PT PETS Utamakan Dialog dengan Warga yang Belum Terima Tali Asih

WARTANESIA.ID — Ketegangan kembali terjadi di kawasan pertambangan Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo pada, Kamis (28/5/2026). Kali ini, warga yang hingga kini belum mendapatkan program tali asih dari PT PETS berhadapan langsung dengan pihak perusahaan di lokasi pertambangan, memperlihatkan bahwa persoalan yang telah lama menggantung itu belum menemukan titik terang.

Merespons insiden tersebut, Abdul Hamid Sukoli (AHS) atau yang akrab disapa Ayah Ypoin, meminta PT PETS untuk segera mengutamakan pendekatan dialog dan negosiasi yang sungguh-sungguh kepada masyarakat yang belum menerima program tali asih, alih-alih memaksakan aktivitas di lapangan.

banner 468x60

AHS menegaskan bahwa ketegangan yang kembali terjadi pada Kamis kemarin adalah bukti nyata bahwa PT PETS belum menuntaskan kewajibannya kepada seluruh masyarakat terdampak. Menurutnya, perusahaan tidak bisa bergerak maju di atas persoalan yang belum diselesaikan.

AHS secara tegas meminta PT PETS untuk turun langsung, membuka ruang dialog yang terbuka, dan melakukan negosiasi secara jujur dan adil kepada warga yang hingga saat ini belum mendapatkan haknya.

“Perusahaan harus duduk bersama masyarakat yang belum mendapatkan tali asih. Dialog dan negosiasi harus diutamakan, jangan sampai persoalan ini terus berlarut dan menimbulkan konflik yang lebih besar,” tegas AHS.

Sejumlah warga yang belum menerima tali asih mengaku keberatan dengan nilai kompensasi yang ditawarkan PT PETS. Tali asih yang seharusnya menjadi jembatan alih profesi bagi masyarakat lokal dinilai terlalu kecil dan tidak realistis untuk dijadikan modal membangun sumber penghasilan baru.

Kondisi inilah yang mendorong sebagian warga untuk tetap bertahan dan mempertahankan kawasan tersebut sebagai sumber penghidupan sehari-hari mereka, hingga akhirnya kembali memicu gesekan dengan pihak perusahaan di lapangan.

AHS juga menekankan agar proses penyelesaian sengketa ini berlangsung secara damai, tanpa ada intimidasi maupun kriminalisasi terhadap warga penambang yang tengah memperjuangkan hak mereka.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat lokal bukan penghalang bagi investasi, melainkan pihak yang harus dilindungi dan dihormati hak-haknya.

Lebih lanjut, AHS mendorong agar mekanisme dialog yang dibuka bukan sekadar formalitas, melainkan negosiasi yang benar-benar menghasilkan kesepakatan yang adil, terukur, dan dapat segera diimplementasikan di lapangan.

“Selesaikan dulu urusan dengan masyarakat. Kalau semua sudah beres, perusahaan bisa bekerja dengan tenang dan masyarakat pun bisa melanjutkan hidupnya dengan layak,” imbuh AHS.

Insiden Kamis kemarin semakin mempertegas desakan berbagai pihak agar PT PETS tidak terus menunda penyelesaian program tali asih bagi warga yang belum menerimanya. Lambatnya penanganan dinilai hanya akan memperpanjang ketidakpastian dan memperbesar potensi konflik sosial di Kabupaten Pohuwato.

Hingga berita ini diterbitkan, PT PETS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait ketegangan yang terjadi pada Kamis (28/5) maupun langkah konkret yang akan diambil untuk mempercepat penyelesaian tali asih bagi masyarakat yang belum menerimanya.