WARTANESIA.ID – Suasana Salat Jumat, (19/06/2026) di salah satu masjid di Gorontalo terasa berbeda dengan kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Namun, di tengah pengamanan yang dilakukan secara terbatas, putra sulung Presiden ke-7 RI itu justru menunjukkan kesederhanaannya dengan memilih duduk dan berbaur bersama jemaah tanpa perlakuan istimewa.
Saat memasuki masjid, Gibran tidak mengambil posisi khusus yang biasanya disediakan bagi pejabat negara. Ia berjalan menuju area salat dan memilih menempati saf belakang bersama jemaah lainnya. Kehadirannya pun banyak menarik perhatian di awal, karena ia tampak santai dan mengikuti seluruh rangkaian ibadah sebagaimana jemaah pada umumnya.
Selama pelaksanaan Salat Jumat, Gibran terlihat khusyuk mendengarkan khotbah yang disampaikan khatib. Tidak ada prosesi penyambutan berlebihan maupun pengaturan khusus di dalam masjid. Sikap tersebut mencerminkan kesederhanaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kesetaraan dalam beribadah.
Beberapa jemaah yang berada di sekitar lokasi mengaku terkesan dengan sikap Wapres yang memilih berada di saf belakang, tidak menempatkan dirinya sebagai tamu kehormatan. Menurut mereka, kehadiran orang nomor dua di Indonesia itu justru memberikan contoh di hadapan Allah SWT seluruh umat memiliki kedudukan yang sama.
Momen tersebut juga menjadi perhatian masyarakat yang hadir. Meski menyandang jabatan sebagai Wakil Presiden, Gibran terlihat nyaman mengikuti seluruh rangkaian ibadah tanpa protokoler yang mencolok. Ia duduk tenang mendengarkan khotbah hingga pelaksanaan Salat Jumat selesai.
Kehadiran Wapres di Gorontalo sendiri merupakan bagian dari agenda kunjungan kerja di daerah tersebut. Di sela-sela agenda kenegaraan yang padat, Gibran menyempatkan diri menunaikan kewajiban Salat Jumat bersama masyarakat setempat.
Sikap sederhana yang ditunjukkan Gibran saat berada di masjid mendapat apresiasi dari sejumlah warga. Mereka menilai tindakan tersebut memperlihatkan kedekatan seorang pemimpin dengan masyarakat, sekaligus menjadi teladan bahwa jabatan tidak menjadi pembatas dalam menjalankan ibadah.












