WARTANESIA – Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan Gorontalo, Syarif Mbuinga, melaksanakan kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah, Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sabtu (20/12/2025).
Kehadiran Syarif Mbuinga disambut hangat oleh pimpinan pondok pesantren, para guru pengajar, pengurus, serta keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah. Para santri dan santriwati tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut.
Dalam sambutannya, Syarif Mbuinga menegaskan bahwa Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah bukanlah lembaga kecil. Menurutnya, pesantren ini tidak hanya memiliki peran strategis di tingkat Desa Banuroja dan Kecamatan Randangan, tetapi juga terhubung dengan organisasi besar hingga skala nasional.
“Setelah saya masuk ke Banuroja, saya melihat daerah ini sebagai miniatur Bhinneka Tunggal Ika. Ini adalah kekuatan besar bangsa kita,” ujar Syarif. Ia menambahkan, sebagai anggota Komite I DPD RI, setiap kunjungan kerja selalu dimanfaatkannya untuk bertemu langsung dan berdialog dengan berbagai unsur masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Syarif Mbuinga juga memberikan perhatian serius terhadap ancaman bahaya narkoba. Ia menegaskan bahwa persoalan narkoba merupakan ancaman luar biasa yang tidak dapat disikapi dengan alasan efisiensi atau keterbatasan anggaran.
“Ancaman narkoba ini adalah panggilan negara. Tidak boleh dijawab dengan keterbatasan anggaran, karena dampaknya sudah sangat nyata dan berada di depan mata,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa meskipun para santri telah dibekali pendidikan agama yang kuat di pesantren, ancaman dari luar tetap ada dan dapat masuk dengan berbagai cara. Oleh karena itu, kewaspadaan serta kolaborasi semua pihak menjadi sangat penting.
“Kalau boleh saya ibaratkan, hari ini pembeli narkoba sudah seperti orang membeli kacang di warung, seperti hendak membuat mi instan. Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.
Selain menyoroti bahaya narkoba, Syarif Mbuinga juga menyampaikan materi tentang sejarah serta nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan penting antara perwakilan negara dan masyarakat pesantren. Tidak hanya mendengarkan pemaparan, pihak pesantren juga menyampaikan berbagai aspirasi, salah satunya terkait persoalan kerusakan lingkungan yang dinilai semakin memprihatinkan dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sekitar.
Dialog yang berlangsung hangat tersebut menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga ruang strategis untuk membahas persoalan kebangsaan, sosial, dan lingkungan secara terbuka serta konstruktif.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Syarif Mbuinga bersama keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah melakukan ziarah ke makam pendiri pondok pesantren. Ia menyampaikan bahwa kunjungan ini juga menjadi momentum silaturahmi yang telah lama direncanakan melalui komunikasi dengan para tokoh pesantren.
“Sudah lama ada niat untuk bersilaturahmi. Ada janji bertemu yang tertunda karena waktu, hingga akhirnya momentum ini dapat terlaksana,” pungkasnya.










