WARTANESIA – Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, yang selama ini dikenal kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), kini justru menghadapi ironi. Di tengah gencarnya arus investasi yang masuk ke daerah berjuluk Bumi Panua, membuat DPRD Pohuwato angkat bicara.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar Senin, (6/4/2026) di DPRD Pohuwato, terungkap bahwa sejumlah investor baru mulai melirik Pohuwato sebagai ladang investasi.
Rapat tersebut turut melibatkan Pemerintah Kabupaten Pohuwato, Tani Merdeka Indonesia, serta sejumlah perusahaan perkebunan di Wilayah Barat Pohuwato seperti PT Biomasa Jaya Abadi (BJA), PT Loka IndahLestari (LIL), PT Bayan Tumbuh Lestari (BTL) dan PT IGL.
Dalam rapat itu, muncul informasi adanya investor baru yang rencananya akan masuk dan berinvestasi di Pobuwato.
Namun bukannya disambut hangat, sinyal masuknya investor baru justru disikapi tegas oleh Anggota DPRD Pohuwato, Rizal Pasuma. Ia secara terang-terangan meminta pemerintah daerah untuk menutup pintu bagi investor baru.
Sikap keras ini bukan tanpa alasan. DPRD menilai pola lama yang dilakukan oleh perusahaan yanh sudah ada, terus berulang. Investor datang dengan janji manis di awal, namun setelah menguasai lahan dan sumber daya, kewajiban terhadap daerah dan masyarakat justru diabaikan.
“Selesaikan dulu masalah yang ada, baru daerah boleh membuka pintu bagi investor. Semakin rusak alam kita, tapi daerah kita tidak mendapatkan manfaat, justru daerah lain yang menikmati,” tegas Rizal Pasuma.
Ia menyoroti fakta pahit di balik derasnya investasi yang masuk. Nilai investasi yang disebut-sebut mencapai triliunan rupiah, ternyata tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan daerah.
“Triliunan rupiah investasi masuk, tapi kita tidak mampu membayar insentif Imam dan pemangku adat yang hanya Rp300 ribu per bulan. Ini ironi” ungkapnya.
Tak hanya itu, Rizal juga menyentil keras lemahnya ketegasan pemerintah daerah dalam menegakkan regulasi terhadap investor. Akibatnya, berbagai persoalan terus menumpuk, baik di sektor pertambangan maupun perkebunan.













