WARTANESIA.ID – Persoalan pembayaran jasa transportasi dalam pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Tani Nelayan XVII di Gorontalo kembali mencuat. Sejumlah driver yang melayani tamu Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Pusat mengaku masih memiliki hak pembayaran yang belum diselesaikan.
Salah seorang driver sekaligus pemilik kendaraan, Imam Suryatama, mengatakan pembayaran yang telah diterima hanya mencakup sembilan hari kerja, padahal masa kontrak mereka berlangsung selama 10 hingga 11 hari.
“Info terbaru, dana yang dicairkan melalui Dinas Pangan yang sedang diurus oleh CEO PT Qdua Sukses Mandiri sudah cair. Kemudian yang jadi permasalahan kami, CEO hanya mengajukan dana untuk sembilan hari kerja, padahal kontrak kami rata-rata 10 sampai 11 hari,” ujar Imam kepada Wartanesia, Senin (6/7/2026).
Imam menjelaskan, dirinya bersama sembilan driver lainnya menggunakan 10 unit Toyota Innova Grand untuk melayani mobilitas tamu KTNA Pusat selama penyelenggaraan PENAS. Setiap kendaraan dikontrak dengan nilai sekitar Rp 800 ribu per hari.
Menurutnya, setelah pemberitaan sebelumnya dan adanya klarifikasi dari Dinas Pangan Provinsi Gorontalo, pembayaran memang mulai dilakukan. Namun, kata dia, pelunasan tersebut hanya untuk sembilan hari kerja.
“Hari itu juga terjadi pembayaran yang hanya sembilan hari kerja. Lalu dana dua hari pelayanan ke mana?” katanya.
Selain sisa pembayaran jasa transportasi, Imam juga menyoroti persoalan upah lembur. Ia mengaku para driver dijanjikan tambahan honor sebesar Rp 30 ribu per jam, apabila jam kerja melebihi 12 jam dalam sehari.
“Kami dijanjikan biaya lembur ketika jam kerja melewati 12 jam sehari. Bahkan ada hari di mana kami diminta bekerja hampir 1×24 jam karena padatnya pelayanan tamu KTNA Pusat,” ungkapnya.
Berdasarkan perhitungan para driver, rata-rata lembur mencapai sekitar 40 jam per orang atau senilai Rp1,2 juta. Ditambah sisa pembayaran dua hari operasional kendaraan sekitar Rp1,6 juta per unit, total hak yang diklaim belum dibayarkan diperkirakan mencapai Rp28 juta hingga Rp 30 juta untuk seluruh armada.
Imam juga mengaku para driver kini kebingungan mengenai pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban atas sisa pembayaran tersebut.
“Torang driver juga tidak tahu lagi harus menagih ke siapa. Vendor kami juga rata-rata belum dibayar dan menggunakan uang talangan. Kami khawatir kalau tidak diselesaikan sekarang, kedepannya akan semakin sulit ditagih,” ujarnya.
Dalam keterangannya, Imam menyebut selama bertugas para driver menerima instruksi operasional dari Ismail Gobel yang disebut sebagai penghubung pengadaan transportasi KTNA Pusat, sementara penyediaan armada berada di bawah tanggung jawab PT Qdua Sukses Mandiri.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Qdua Sukses Mandiri maupun Ismail Gobel belum memberikan tanggapan atas klaim yang disampaikan para driver.








