WARTANESIA – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan rudal besar-besaran yang diluncurkan oleh Iran dan kelompok Houthi di Yaman menghantam sejumlah wilayah Israel, Sabtu (14/6/2025) malam waktu setempat.
Serangan ini menjadi bagian dari respons terhadap operasi militer Israel di Gaza dan Iran, serta semakin memperkuat poros perlawanan terhadap Tel Aviv.
Iran Balas Serangan, Ratusan Luka dan Puluhan Tewas
Sebanyak 500 warga Israel dilaporkan terluka dan sedikitnya 10 orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, akibat gempuran rudal balistik Iran yang sebagian tidak mampu ditangkal sistem pertahanan Iron Dome.
Menurut laporan Al Mayadeen, serangan ini menyebabkan kerusakan parah di wilayah tengah Israel, termasuk di Bat Yam, Tel Aviv, dan Galilea Barat. Dua mayat ditemukan dari reruntuhan bangunan di Bat Yam, dan sekitar 20 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Organisasi medis darurat Israel, Magen David Adom (MDA), mengungkapkan bahwa sebagian besar korban mengalami luka akibat hantaman langsung rudal ke kawasan permukiman.
Di distrik Shfela dan Haifa, serangan juga menewaskan dan melukai puluhan warga, termasuk tiga perempuan dan seorang perempuan muda berusia 20-an tahun.
Houthi Ikut Terlibat, Serang Jaffa Bersama Iran
Kelompok Houthi di Yaman, yang dikenal dekat dengan Iran, menyatakan telah ikut melancarkan serangan ke wilayah Jaffa di Israel tengah dalam 24 jam terakhir.
Aksi ini diklaim sebagai bagian dari solidaritas terhadap warga Gaza dan dilakukan dalam koordinasi penuh dengan Iran.
“Houthi menargetkan wilayah-wilayah strategis Israel dengan rudal balistik sebagai bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
Sumber dari Ansar Allah, nama lain dari Houthi, mengatakan kepada Newsweek bahwa mereka akan terus menggempur Israel bahkan jika kehilangan pemimpin tertinggi mereka dalam serangan.
Sumber tersebut menyebut serangan Israel baru-baru ini menargetkan Kepala Staf Militer Ansar Allah, Mohammed Abdel Karim al-Ghamari, dan pemimpin politik Mahdi al-Mashat.
“Kami semua adalah proyek kesyahidan. Setiap pemimpin digantikan oleh seribu pemimpin,” ujar sumber tersebut, menunjukkan tekad kelompok untuk melanjutkan perlawanan.
Rumah Sakit Penuh, Dokter Diminta Pulang
Kementerian Kesehatan Israel melaporkan bahwa sistem pelayanan kesehatan kini dalam mode siaga tinggi.
Rumah sakit kewalahan dengan jumlah korban, sementara layanan rawat jalan semi-darurat tetap berjalan di bawah perlindungan khusus.
Pemerintah Israel bahkan mempertimbangkan memulangkan dokter dari luar negeri karena penutupan wilayah udara, dan telah mengaktifkan ruang operasi bawah tanah sebagai pusat koordinasi antara militer, layanan kesehatan, dan badan-badan darurat lainnya.
Seorang pejabat senior menyebut bahwa sektor kesehatan sedang bersiap menghadapi “jumlah korban massal,” meski rincian lebih lanjut masih dirahasiakan karena alasan keamanan.
Netanyahu Dikabarkan Dievakuasi ke Yunani
Di tengah situasi genting, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan telah dievakuasi ke luar negeri.
Media Israel menyebutkan bahwa pesawat kepresidenan Israel, Wing of Zion, lepas landas dari Bandara Ben-Gurion pada Jumat (13/6/2025) pagi, dikawal dua jet tempur.
Stasiun televisi Channel 12 mengonfirmasi bahwa pesawat mendarat di Athena, Yunani. Langkah ini memicu spekulasi luas soal motif evakuasi, mulai dari upaya perlindungan terhadap ancaman serangan Iran hingga manuver diplomatik rahasia.
Meski belum ada pernyataan resmi dari otoritas Israel, media The Jerusalem Post mengaitkan penerbangan ini dengan serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran, yang disebut sebagai bagian dari Operasi Rising Lion.
Presiden Israel Sampaikan Belasungkawa
Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan belasungkawa atas jatuhnya korban sipil akibat serangan rudal Iran. Dalam unggahan di media sosial X, ia menyebut peristiwa itu sebagai “pagi yang menyedihkan dan sulit” bagi warga Israel.
“Saudara-saudari kita dibunuh dan terluka tadi malam oleh serangan Iran yang menyasar warga sipil di Bat Yam, Tamra, dan komunitas lainnya. Saya berduka mendalam dan mendoakan kesembuhan para korban luka,” tulis Herzog.
Eskalasi Berbahaya di Timur Tengah
Gelombang saling serang antara Israel dan Iran, ditambah keterlibatan kelompok Houthi, menandai eskalasi paling serius di kawasan sejak konflik Gaza kembali pecah pada Oktober 2023.
Serangan Israel di wilayah Gaza hingga kini telah menyebabkan lebih dari 55.000 warga Palestina tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.
Ketegangan yang terus meningkat ini dikhawatirkan bisa meluas menjadi konflik regional terbuka, dengan keterlibatan negara-negara sekutu di kedua belah pihak.











