WARTANESIA – Serangan militer Israel ke Jalur Gaza terus berlangsung intensif di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran. Dalam 12 hari terakhir, serangan pasukan zionis Israel telah menewaskan sedikitnya 870 warga Palestina, menurut laporan otoritas kesehatan setempat, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (25/6/2025).
Dengan bertambahnya korban tersebut, total jumlah warga Palestina yang tewas sejak konflik meletus pada Oktober 2023 kini mencapai 56.077 jiwa.
Angka tersebut belum termasuk ribuan lainnya yang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan dan dikhawatirkan telah meninggal dunia.
Serangan udara dan darat Israel sejak fajar dikabarkan telah menewaskan sedikitnya 86 warga sipil hanya dalam waktu satu hari. Kondisi kemanusiaan di Gaza pun terus memburuk dan memicu kecaman dari berbagai pihak.
Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stéphane Dujarric, menegaskan bahwa angka kematian yang terus bertambah mencerminkan skala kehancuran dan penderitaan di Gaza.
“Angka tragis yang Anda sebutkan sudah cukup menjelaskan horor yang tengah berlangsung di Gaza,” ujarnya dalam konferensi pers di New York.
Dujarric menyoroti bagaimana warga sipil menjadi korban saat mereka hanya mencoba bertahan hidup.
“Orang-orang dibunuh saat berusaha mendapatkan makanan karena sistem distribusi kemanusiaan telah dimiliterisasi dan gagal memenuhi standar dasar sistem bantuan yang adil, independen, dan tidak memihak,” tambahnya.
Ia juga menyerukan adanya keberanian politik dari para pemimpin di kedua belah pihak untuk segera menghentikan pertumpahan darah ini.
“Sudah waktunya para pemimpin di kedua sisi menemukan keberanian politik untuk menghentikan pembantaian ini,” tegas Dujarric.
Dari dalam negeri Israel, suara penolakan terhadap perang juga kian menguat. Pemimpin oposisi utama, Yair Lapid, secara terbuka menyatakan bahwa konflik di Gaza harus segera dihentikan.
“Saat ini yang paling penting adalah memulangkan para sandera dan mengakhiri perang di Gaza. Israel harus diarahkan ke jalan yang baru,” kata Lapid dalam pernyataan video yang ia unggah ke media sosial.
Lapid juga menuding pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah gagal total dalam melindungi rakyat Israel, khususnya dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
“Apa yang kita saksikan adalah kegagalan besar dari Netanyahu dan aparat keamanannya—kegagalan yang tak bisa dimaafkan,” tegas Lapid.








