Donald Trump Murka, Israel Dinilai Langgar Gencatan Senjata

WARTANESIA – Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai puncaknya. Bukan karena dentuman rudal, tetapi karena ledakan emosi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social, Trump menyampaikan peringatan keras kepada Israel dan Iran, menyusul dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kedua pihak.

Situasi yang sudah rapuh kini makin memburuk setelah militer Israel dikabarkan bersiap melakukan serangan balasan terhadap Iran, yang mereka tuduh melanggar kesepakatan damai sementara.

banner 468x60

Kemurkaan Trump mencuat secara terbuka. Dalam postingan yang didominasi huruf kapital—gaya khas sang presiden untuk menandakan urgensi—ia memperingatkan agar Israel mengurungkan niat menyerang Iran.

“ISRAEL. JANGAN JATUHKAN BOM-BOM ITU. KESALAHAN BESAR JIKA KALIAN MELAKUKANNYA. BAWA BALIK PILOT-PILOT KALIAN, SEKARANG!” tulis Trump di Truth Social pada Selasa (24/6/2025), seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan tersebut menggemparkan ranah diplomatik internasional. Intervensi langsung dari Presiden AS ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington memandang situasi saat ini sangat genting.

Tuduh-Menuduh dan Ketegangan di Balik Layar

Tak hanya di media sosial, Trump juga meluapkan kekecewaannya di Gedung Putih. Ia mengkritik Israel dan Iran yang dinilai terjebak dalam konflik berkepanjangan tanpa arah yang jelas.

“Dua negara ini telah bertikai begitu lama dan intens hingga mereka bahkan tak lagi tahu apa yang mereka lakukan,” ucap Trump seperti dikutip dari AFP.

Pemicunya adalah laporan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang menuduh Iran meluncurkan rudal setelah gencatan senjata diberlakukan. Dua rudal dikabarkan meluncur dan memicu sirene di wilayah utara Israel, yang disebut sebagai tindakan provokatif.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, merespons laporan tersebut dengan sikap keras. Ia menyatakan bahwa Israel tidak akan tinggal diam dan siap membalas, menegaskan bahwa pelanggaran oleh Iran akan mendapatkan respons tegas.

Iran Tegas Membantah

Di sisi lain, Teheran secara resmi menolak tuduhan Israel. Militer Iran menyatakan tidak ada rudal yang ditembakkan setelah gencatan senjata dimulai. Media pemerintah Iran, Mehr News, melaporkan bahwa serangan terakhir ke Israel terjadi sebelum pukul 11.00 waktu setempat—waktu mulai berlaku gencatan senjata.

Menurut laporan tersebut, sekitar 20 rudal telah diluncurkan sebelum kesepakatan damai efektif berjalan, dan tak ada pelanggaran setelah itu.

Trump Merasa Dikhianati Netanyahu

Ketegangan makin meningkat setelah dua ledakan mengguncang Teheran pada Selasa malam, hanya beberapa jam setelah kesepakatan damai diumumkan. Insiden ini menjadi pukulan besar terhadap upaya diplomasi yang telah dirintis Washington.

Media Iran seperti Mizan dan Shargh menjadi yang pertama melaporkan ledakan tersebut, memunculkan kekhawatiran bahwa perdamaian hanya berlangsung seumur jagung.

Situasi ini berkembang menjadi perseteruan personal antara Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menurut laporan Axios, Trump secara langsung menelepon Netanyahu dan meminta agar serangan dibatalkan.

Namun, Netanyahu menolak permintaan tersebut. Ia beralasan bahwa respons militer terhadap pelanggaran Iran sangat diperlukan. Meski menjanjikan serangan akan terbatas dan hanya menargetkan satu lokasi, hal itu tidak cukup untuk meredam kemarahan Trump.

Phil Lavelle dari Al Jazeera melaporkan bahwa Trump merasa terhina oleh tindakan Netanyahu yang dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap peran mediasi AS.

“Trump merasa sangat kecewa dan mungkin juga merasa dikhianati oleh Netanyahu setelah Israel tetap melancarkan serangan,” ujar Lavelle.

Kemarahan Trump Membuncah

Kekecewaan Trump mencapai puncaknya saat ia bersiap menuju KTT NATO di Eropa. Kepada wartawan, Trump tak menutupi kemarahannya, terutama setelah segala upaya diplomatiknya—termasuk melibatkan Qatar—gagal menghindari konflik terbuka.

Sebelum menaiki pesawat, Trump dikabarkan mengumpat dalam komentarnya, menunjukkan betapa kesalnya ia terhadap perkembangan situasi.

“Ia marah kepada kedua pihak, tetapi ada kemarahan lebih besar yang jelas ditujukan kepada Israel,” tambah Lavelle, menegaskan betapa dalamnya rasa frustrasi yang kini menyelimuti Gedung Putih.