Oleh - Riyanto Ismail (Ketua KNPI Provinsi Gorontalo Gorontal)
Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah sebuah janji besar, bahwa bangsa Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri, mengelola kekayaan alamnya sendiri, serta membangun kehidupan yang adil dan bermartabat.
Namun, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan penting bagi pemuda hari ini adalah: apakah seluruh bentuk kolonialisme benar-benar telah berakhir?
Secara politik, Indonesia memang telah merdeka. Bendera Merah Putih berkibar, pemerintahan berdiri sendiri, dan bangsa Indonesia menentukan arah negaranya. Tetapi kolonialisme tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan bersenjata. Ia dapat meninggalkan warisan berupa ketimpangan, ketergantungan ekonomi, eksploitasi sumber daya, mentalitas inferior, hingga ketidakadilan sosial.
Di sinilah pemuda harus mengambil posisi.
Pemuda tidak boleh hanya menjadi generasi yang hafal sejarah, tetapi lupa mengambil pelajaran dari sejarah. Kita tidak cukup hanya mengibarkan bendera, mengikuti upacara, lalu kembali pada kehidupan masing-masing. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk melawan segala bentuk ketidakadilan yang masih membelenggu masyarakat.
Kolonialisme meninggalkan tanah yang pernah dirampas, ekonomi yang pernah dikendalikan, dan mentalitas yang pernah dibentuk. Tugas generasi muda adalah memastikan warisan itu tidak menjadi masa depan kita.
Pemuda hari ini menghadapi bentuk penjajahan yang jauh lebih kompleks. Bukan lagi kapal perang yang datang dari negeri asing, tetapi dominasi modal, penguasaan teknologi, ketergantungan ekonomi, arus informasi, dan kompetisi global yang dapat membuat bangsa hanya menjadi pasar bagi produk dan kepentingan orang lain.
Karena itu, kemerdekaan di era modern harus dimaknai sebagai kedaulatan dalam berpikir, berdiri secara ekonomi, berdaulat atas sumber daya, dan memiliki kemampuan menguasai teknologi.
Pemuda Gorontalo secara umum dan pemuda di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, memiliki tantangan yang sama. Kekayaan alam tidak boleh hanya menghasilkan angka investasi, sementara masyarakat lokal tetap menjadi penonton.
Pembangunan harus menghadirkan lapangan pekerjaan, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan UMKM, transfer teknologi, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Kita harus berani bertanya: untuk siapa kekayaan negeri ini dikelola? Untuk siapa pembangunan dilakukan? Dan siapa yang paling banyak mendapatkan manfaat dari kemerdekaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk perlawanan terhadap negara. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kecintaan terhadap Indonesia.
Pemuda harus menjadi generasi yang kritis tanpa kehilangan etika, berani tanpa kehilangan akal sehat, dan idealis tanpa terjebak pada kepentingan sesaat.
Kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu. Kemerdekaan harus menjadi energi untuk menciptakan masa depan.
Jika dahulu para pemuda memperjuangkan Indonesia agar bebas dari penjajahan, maka pemuda hari ini memiliki tugas membebaskan Indonesia dari kemiskinan, kebodohan, korupsi, ketimpangan, ketergantungan, dan ketidakadilan.
Sebab, merdeka bukan hanya ketika tidak ada bangsa asing yang menguasai kita.
Merdeka adalah ketika rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sejahtera, ketika hukum berdiri tegak tanpa pandang bulu, ketika kekayaan alam memberikan manfaat bagi rakyat, dan ketika pemuda memiliki masa depan di tanah kelahirannya sendiri.
Maka pada momentum 17 Agustus 2026 ini, pemuda tidak cukup bertanya, “Apa yang telah diberikan Indonesia kepada kita?”
Justru kita harus bertanya
“Apa yang akan kita lakukan agar kemerdekaan ini tidak kehilangan maknanya?”
Karena perjuangan belum selesai.
Generasi terdahulu merebut kemerdekaan dengan darah dan air mata. Generasi hari ini harus mengisinya dengan pikiran, keberanian, ilmu pengetahuan, integritas, dan kerja nyata.
Merah Putih bukan hanya simbol yang kita kibarkan. Ia adalah tanggung jawab yang harus kita jaga.
Dan pemuda adalah salah satu penjaga terpenting dari masa depan kemerdekaan itu sendiri.




