WARTANESIA – Aliansi Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato menggelar aksi demonstrasi di depan Markas Kepolisian Resor (Polres) Pohuwato. Aksi ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Bhayangkara.
Dalam aksi tersebut, HMI secara tegas mengkritik kinerja Polres Pohuwato yang dinilai tidak maksimal dalam menangani aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah tersebut.
Koordinator lapangan aksi, Moh. Rosikhul Fikri Papempang, menilai bahwa aktivitas PETI di Pohuwato telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang kian parah. Ia menuding aparat kepolisian bersikap pasif bahkan terkesan membiarkan aktivitas ilegal tersebut terus berlangsung tanpa penindakan.
“Kami meminta Kapolres Pohuwato untuk menindak tegas para pelaku PETI. Saat ini kerusakan lingkungan di Pohuwato semakin masif akibat aktivitas pertambangan ilegal yang dibiarkan begitu saja,” tegas Rosikhul dalam orasinya.
Dalam tuntutannya, HMI Pohuwato juga mendesak pihak Polres untuk membuka informasi secara transparan kepada publik terkait identitas para pelaku PETI.
Mereka turut menyoroti kinerja Satuan Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polres Pohuwato yang dinilai lamban dan tidak proaktif dalam merespons laporan masyarakat tentang kerusakan lingkungan.
“Kami menduga ada pembiaran sistematis. Polisi seperti berselingkuh dengan mafia PETI. Intelkam pun tak becus, mereka hanya berdalih tak bisa berbuat apa-apa karena PETI menjadi mata pencaharian sebagian orang,” ujar Rosikhul.
Aksi unjuk rasa tersebut sempat memanas ketika pengunjukrasa membakar ban sebagai bentuk protes, namun aksi itu cepat diamankan oleh aparat yang berjaga.
Pihak kepolisian yang tengah bersiap menyambut perayaan HUT Bhayangkara sore harinya tetap berupaya menjaga situasi tetap kondusif. Meskipun sempat diwarnai ketegangan, aksi demonstrasi akhirnya berlangsung damai hingga selesai.













