Harga BBM di Depot ‘Menggila’, Pemda Pohuwato Diminta Razia Pom Mini

WARTANESIA.ID – Pemerintah Kabupaten Pohuwato melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Perindagkop dan UMKM) diminta segera melakukan penertiban serta razia terhadap depot-depot penjual bahan bakar minyak (BBM) eceran yang diduga menjual BBM dengan harga tidak wajar.

Permintaan tersebut muncul menyusul keluhan masyarakat terkait tingginya harga BBM eceran yang dijual di sejumlah depot maupun pom mini di wilayah Pohuwato.

banner 468x60

Warga mengaku, harga BBM jenis Pertalite dijual hingga Rp25 ribu untuk 1,5 liter, sedangkan Pertamax mencapai Rp30 ribu untuk ukuran yang sama.

Bahkan untuk ukuran satu liter, Pertalite dijual seharga Rp15 ribu per liter dan Pertamax mencapai Rp25 ribu per liter.

Padahal, harga resmi BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU hingga saat ini masih berada pada kisaran Rp10 ribu per liter dan belum mengalami kenaikan.

“Ini so (sudah) tidak masuk akal dan harus dilakukan razia. Sementara harga resmi Pertalite masih Rp10 ribu per liter,” ujar salah satu warga, Zainudin Umar, Minggu (10/5/2026). 

Ia juga meminta pemerintah daerah memeriksa legalitas usaha depot-depot penjual BBM yang ada. 

“Kalau perlu, izin-izin penjualan depot juga diperiksa. Jangan sampai ada yang masuk kategori ilegal,” tambahnya.

Selain mengawasi harga jual, masyarakat juga meminta pemerintah melakukan pengecekan terhadap takaran BBM pada pom mini untuk memastikan volume yang diberikan kepada konsumen sesuai standar.

Diketahui, hingga 11 Mei 2026, penyesuaian harga BBM yang dilakukan Pertamina hanya berlaku untuk BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Sementara harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih tetap.

Untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertalite masih berada di kisaran Rp10 ribu per liter, sedangkan Pertamax berkisar antara Rp12.300 hingga Rp12.600 per liter. Sementara harga BBM non-subsidi lainnya mengalami penyesuaian dan dapat berbeda di setiap daerah.