Covid-19 Varian MB.1.1 Dominasi Indonesia, Pemerintah Imbau Warga Tidak Panik

WARTANESIA – Lonjakan kasus COVID-19 kembali terjadi di sejumlah negara di Asia, dengan dominasi varian baru yang berbeda-beda di tiap wilayah. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan bahwa varian MB.1.1, yang masih berkerabat dengan varian Omicron, menjadi varian dominan saat ini.

Terkait kemunculan beberapa subvarian baru tersebut, epidemiolog Dicky Budiman mengimbau masyarakat agar tidak panik.

banner 468x60

Menurutnya, risiko penularan masih bisa diminimalisir dengan penerapan pola hidup sehat serta penggunaan masker di tempat ramai.

“Esensi penggunaan masker ini masih relevan di kondisi saat ini, walaupun tentu tidak seperti masa pandemi. Gunakan masker di tempat-tempat dengan kualitas udara yang buruk ataupun di transportasi publik. Ini bukan hanya soal penyebaran COVID-19, tetapi juga infeksi saluran napas lainnya,” jelas Dicky seperti dikutip detikcom, Sabtu (31/5/2025).

Dicky menambahkan, peningkatan kasus dapat dipantau melalui surveilans atau pemeriksaan COVID-19. Namun, menurutnya, untuk saat ini testing secara individual belum menjadi kebutuhan mendesak, kecuali untuk keperluan diagnosis.

“Testing secara mandiri tetap sangat dimungkinkan karena saat ini banyak tersedia di fasilitas kesehatan,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya tes untuk membedakan COVID-19 dengan influenza, sebab gejala dari subvarian yang kini beredar sangat mirip.

“Amat sangat sama dan tidak ada perubahan yang menonjol ya. Kecuali saat ini gejalanya tidak seperti dulu. Misalnya anosmia yang dulu mengganggu indera penciuman dan perasa, sekarang sudah sangat jarang,” ujarnya.

Gejala yang umum saat ini antara lain batuk, pilek, demam, nyeri saat menelan, dan sakit kepala. Gejala tersebut, menurut Dicky, sangat mirip dengan flu, terutama bagi mereka yang memiliki sinus.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa durasi gejala COVID-19 cenderung lebih lama dibandingkan flu biasa, terutama jika imunitas tubuh sedang menurun.

“Misalnya kalau flu biasanya tiga hari sudah mereda, ini bisa sampai lima hari. Jadi gejalanya jauh lebih panjang dari flu biasa,” tutupnya. (Wn)

Berita terkait