APDESI Pohuwato Desak PGM Pecat Sukrianto, Karyawan Diduga Arogan

WARTANESIA.ID – Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Pohuwato mengecam dugaan sikap arogan dan intimidatif yang dilakukan salah satu oknum pegawai perusahaan tambang terhadap masyarakat penambang lokal atau kabilasa.

Sikap tersebut disampaikan Pengurus APDESI Pohuwato yang juga Kepala Desa Sukamakmur, Kecamatan Patilanggio, Badrun Yonu.

Ia menilai, apabila dugaan tindakan tersebut terus dibiarkan, bukan hanya masyarakat yang akan dirugikan, tetapi juga dapat berdampak terhadap citra perusahaan di tengah masyarakat.

Badrun menegaskan, bentuk perlawanan yang disuarakan APDESI pada prinsipnya ditujukan terhadap oknum pegawai perusahaan yang dinilai menunjukkan sikap sombong dan arogan, bukan terhadap lembaga atau perusahaan secara keseluruhan.

“Pada prinsipnya, bentuk perlawanan ini ditujukan kepada oknum pegawai perusahaan yang dinilai sombong dan arogan tersebut. Sikap oknum tersebut justru dapat merusak citra lembaga sekuriti maupun institusi tempat beliau pernah mengabdikan diri,” ujar Badrun.

Menurutnya, banyak orang yang memiliki latar belakang profesi dan pengalaman pengabdian serupa, namun tetap mampu menjaga sikap dalam berhadapan dengan masyarakat.

“Masih banyak yang memiliki profesi dan latar belakang pekerjaan maupun pengabdian seperti yang beliau miliki, tetapi tidak bersikap se-arogan dan sesombong seperti oknum tersebut,” tegasnya.

Badrun juga meminta pihak pimpinan perusahaan mengambil langkah tegas terhadap oknum pegawai yang dimaksud. Menurutnya, tindakan tersebut penting untuk mencegah munculnya korban lain dari kalangan masyarakat penambang lokal.

“Kalau pihak pimpinan perusahaan tidak mengambil sikap tegas untuk memberhentikan Sukrianto, oknum pegawai tersebut dari jabatannya saat ini, maka saya sebagai pribadi yang pernah menyaksikan dan mendengar secara langsung tindakan serta kalimat yang bersifat intimidasi dan diskriminasi terhadap rakyat penambang lokal, memastikan akan ada lagi masyarakat penambang lokal lainnya yang menjadi korban,” katanya.

Ia menyebut, dugaan sikap arogan tersebut bukan kali pertama terjadi. Menurut Badrun, sebelumnya oknum yang sama juga pernah mendapat sorotan setelah dugaan tindakan serupa beredar di media sosial beberapa pekan lalu.

“Ini bukan hanya sekali dilakukan. Sebelumnya juga sudah ada sikap yang sama seperti yang beredar beberapa pekan lalu melalui media sosial,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Badrun mengingatkan perusahaan agar tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Sebab, menurutnya, jika dugaan arogansi dan intimidasi terhadap masyarakat terus terjadi, persoalan itu berpotensi memperburuk hubungan antara perusahaan dan masyarakat lokal.

“Jika ini terus-menerus dibiarkan oleh pihak perusahaan, khususnya unsur pimpinan, atas sikap arogansi dan intimidasi yang dilakukan, bukan hanya rakyat penambang yang dirugikan. Hal ini juga dapat membuat citra dan nama baik perusahaan menjadi buruk,” jelasnya.

Padahal, kata Badrun, perusahaan selama ini kerap menyampaikan komitmennya untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gorontalo, khususnya Kabupaten Pohuwato.

Karena itu, ia berharap pimpinan perusahaan segera melakukan evaluasi dan mengambil tindakan yang dianggap perlu terhadap oknum pegawai tersebut agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Terkait kecaman tersebut, External Affairs Pani Gold Mine, Kurniawan Siswoko mengatakan bahwa, hal tersebut merupakan hak setiap warga negara.

“Kami menghormati setiap langkah yang diambil warga masyarakat, sepanjang dalam koridor aturan dan hukum yang berlaku,” ujar Kurniawan melalui pesan singkat WhatsApp.