Kisah Sri Ramadhani Okta: Dari Mimpi Cahaya di Bulan Ramadhan hingga Mengucap Syahadat

WARTANESIA – Malam di bulan suci Ramadhan seringkali membawa ketenangan bagi banyak orang. Namun bagi seorang wanita muda asal Manado, malam itu menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya selamanya.

Senin malam (09/03/2026), sesaat sebelum pelaksanaan shalat tarawih, Sela Kimlion (23) dengan suara bergetar namun penuh keyakinan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Baiturrahim Pohuwato.

banner 468x60

Di hadapan beberapa saksi dan orang-orang terdekat yang mendampinginya, ia resmi memeluk agama Islam dan memulai lembaran baru dalam hidupnya.

Perempuan yang kini memilih nama Sri Ramadhani Okta itu mengaku keputusannya lahir dari pengalaman spiritual yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Selama satu pekan berturut-turut, mulai malam Jumat pekan sebelumnya hingga Junat berikutnya, Sri mengalami mimpi yang sama.

Dalam mimpinya, ia melihat lafadz Al-Qur’an dan sosok cahaya yang wajahnya tak terlihat. Perlahan-lahan, huruf-huruf Arab muncul di hadapannya, huruf yang tidak ia pahami, namun meninggalkan rasa haru dan kedamaian yang sulit dijelaskan.

“Saya sempat takut. Tapi setelah mimpi itu datang terus menerus, saya merasa seperti ada panggilan dalam hati untuk masuk Islam,” tutur Sri dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya di Desa Botubilotahu, Senin malam.

Pada awalnya, mimpi tersebut ia simpan sendiri. Namun setelah beberapa kali kembali muncul, Sri akhirnya memberanikan diri bercerita kepada seorang tetangga yang beragama Islam melalui pesan WhatsApp. Ia hanya ingin memahami apa arti dari mimpi yang terus mengusik pikirannya.

Tetangga itu hanya memberikan jawaban sederhana, namun membekas dalam hati Sri.

“Kalau sudah yakin, nanti akan dituntun,” kata Sri mengingat kembali pesan yang ia terima.

Namun perjalanan menuju keyakinan itu tidak sepenuhnya mudah. Keputusan Sri memeluk Islam sempat mendapat penolakan dari kedua orang tuanya.

Meski begitu, tekad perempuan berusia 23 tahun ini tidak surut. Ia percaya keputusan yang diambilnya adalah jalan yang baik bagi dirinya dan masa depan anaknya yang masih berusia satu setengah tahun.

“Saya ingin hidup lebih tenang dan lebih baik. Bukan hanya untuk saya, tapi juga untuk anak saya,” ujarnya pelan.

Sejak tahun 2024, Sri merantau dan menetap di Kabupaten Pohuwato. Ia tinggal di sebuah rumah semi permanen bersama beberapa teman serumah yang beragama Islam.

Lingkungan sederhana itulah yang perlahan menjadi tempatnya belajar tentang kehidupan baru, tentang ketenangan, kebersamaan, dan nilai-nilai spiritual.

“Teman-teman di rumah selalu mendukung saya. Anak saya juga bisa tumbuh di lingkungan yang baik. Itu membuat hati saya semakin mantap,” katanya.

Awalnya, Sri berencana mengucapkan syahadat pada Minggu (08/03/2026). Namun beberapa kendala membuat niat tersebut tertunda hingga Senin malam. Meski demikian, momen pengucapan syahadat itu justru berlangsung lebih khidmat dan penuh haru.

Didampingi teman-teman serumah dan para tetangga, Sri akhirnya mengucapkan kalimat yang menurutnya telah lama mengetuk hatinya.

Kini, ia bersiap menjalani pengalaman baru dalam hidupnya—menjalani sahur pertama dan menunaikan ibadah puasa Ramadhan bersama orang-orang yang selama ini mendukung langkahnya.

Bagi Sri, perjalanan ini bukan sekadar perubahan keyakinan, tetapi perjalanan hati yang penuh keberanian. Dari mimpi-mimpi misterius yang datang berturut-turut, penolakan keluarga, hingga kehidupan di perantauan, semuanya seakan menjadi jalan yang menuntunnya pada keyakinan baru.

“Mimpi-mimpi itu seperti lampu yang menuntun saya di jalan gelap,” ucapnya lirih.

Kini, di bulan Ramadhan yang penuh berkah, Sri Ramadhani Okta memulai hidup baru dengan satu harapan sederhana: menjadi pribadi yang lebih baik dan membimbing anaknya menuju masa depan yang penuh kebaikan.

(Seluruh narasi dalam berita merupakan hasil wawancara media dan telah mendapatkan persetujuan dari Sri Ramadhani Okta, untuk ditayangkan)