WARTANESIA – Aktivitas pertambangan ilegal tanpa izin di wilayah dekat Mapolres Pohuwato, yakni, Desa Teratai, Bulangita dan Hutino hingga kini terus berjalan tanpa tersentuh hukum.
Padahal, dampaknya mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, setelah jalan dan fasilitas umum di sekitar lokasi dipenuhi lumpur meski tidak sedang diguyur hujan.
Kondisi tersebut menjadi keluhan warga usai sebuah unggahan di media sosial Facebook memperlihatkan jalan desa yang merupakan akses vital masyarakat berubah licin dan berlumpur akibat aktivitas tambang ilegal.
Dalam unggahan akun Facebook milik Nolha, warga mengungkapkan kekhawatirannya karena jalan tersebut telah beberapa kali menyebabkan kecelakaan.
“Perlu perhatian ini jalan k Bulangita eyi… kemarin pagi 1 orang teman guru tapulepe disitu, dp siang 1 lagi yang amper tapulepe lagi dan pagi ini saya yang tapulepe disitu, untung tidak ba gas eyi klo tidak ta turus di hiyahiyambunga kong ada weruO lagi. Pokoknya setiap hari ada-ada saja depe drama cerita lo weruO,” tulisnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Anwar, yang menilai aparat penegak hukum terkesan tebang pilih dalam melakukan penindakan terhadap aktivitas pertambangan ilegal.
Menurutnya, aparat terlihat tegas melakukan penindakan di wilayah perusahaan, namun justru terkesan membiarkan aktivitas tambang ilegal yang berada di pusat kota, hanya berjarak selemparan batu dari Mapolres Pohuwato.
Ia menegaskan, alih-alih melakukan penindakan, yang nyata-nyata di depan mata dekat pusat kota, Kepolisian justru tutup mata dan membiarkan PETI di sana.
Ia pun mendesak Polres Pohuwato segera turun tangan dan menghentikan aktivitas pertambangan ilegal yang dinilai telah merusak fasilitas umum serta membahayakan keselamatan warga.
“Kami minta Polres Pohuwato bertindak. Jangan hanya berani tangkap di wilayah perusahaan, tapi kenapa yang di dalam kota justru tutup mata. Apakah karena mengganggu perusahaan sehingga berani ditindak, sementara perusak lingkungan di pusat kota dibiarkan,” tegasnya.











