WARTANESIA – Tabrakan tragis yang menenggelamkan kapal layar motor (KLM) Asia Mulia di perairan Kabupaten Bantaeng, Kamis (19/6/2025), masih menyisakan tanda tanya besar. Hingga kini, kapal yang menghantam KLM Asia Mulia belum berhasil diidentifikasi, sementara tiga dari delapan anak buah kapal (ABK) masih dinyatakan hilang.
KLM Asia Mulia yang berangkat dari Alor, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (16/6/2025), mengangkut 57 ekor kerbau dan dijadwalkan bersandar di Pelabuhan Bungeng, Jeneponto.
Namun, takdir berkata lain. Dalam posisi mengapung menunggu waktu sandar, kapal dihantam keras oleh kapal logam berukuran besar dari arah lambung, menyebabkan kapal terbelah dan tenggelam dalam waktu singkat.
“Tiba-tiba kapal berguncang keras, langsung miring dan terseret. Setelah kapal mulai tenggelam, saya baru lompat,” ujar Asrul Sani (41), salah satu ABK yang selamat, Sabtu (21/6/2025).
Asrul menuturkan, suasana saat kejadian begitu gelap, sehingga sulit mengenali jenis atau warna kapal penabrak. Ironisnya, klakson kapal baru terdengar setelah insiden terjadi.
“Saya tidak tahu kapal tanker atau kargo, yang jelas kapal besi. Klaksonnya baru dibunyikan setelah kapal kami ditabrak,” lanjut Asrul.
Beruntung, lima dari delapan ABK berhasil selamat setelah berpegangan pada rakit darurat yang lepas dari badan kapal. Mereka adalah Asrul dan Ebit (asal Bone), serta Pance, Supri, dan Harun (asal Alor).
Tiga ABK lainnya hingga kini belum ditemukan. Mereka yakni Supriadi (Kapten kapal, Asdar (Kepala Kamar Mesin/KKM), Aldi (Kelasi). Ketiganya berasal dari Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Sementara, 5 korban selamat yakni Ebit, asal Kajuara, Bone, Asrul, asal Kajuara, Bone, Pance, asal Alor, NTT, Supri, asal Alor, NTT, dan Harun, asal Alor, NTT
Sorotan DPRD: Pengawasan Lemah, Alat Navigasi Minim
Kejadian memilukan ini mendapat sorotan tajam dari Komisi III DPRD Jeneponto. Anggota DPRD, Haryanto, menyayangkan lemahnya pengawasan lalu lintas laut, terutama mengingat lokasi kejadian hanya berjarak 9 mil laut dari Kantor Syahbandar Jeneponto.
“Seharusnya Jeneponto dilengkapi alat pendeteksi canggih, karena ini jalur perlintasan kapal besar. Kalau alat itu ada, mungkin kapal penabrak bisa segera terdeteksi,” tegas Haryanto kepada wartawan.
Haryanto juga menyebut telah berkoordinasi intens dengan BPBD Jeneponto guna memaksimalkan pencarian tiga ABK yang hilang.
“Saya sering mengontak BPBD. Alhamdulillah, mereka responsif dan terus melaporkan perkembangan,” ujarnya.
Pencarian korban sendiri mengacu pada SOP maksimal selama 10 hari — 7 hari pencarian utama dan tambahan waktu 3 hari. Jika tidak ditemukan dalam tenggat waktu itu, ketiga korban kemungkinan besar akan dinyatakan hilang.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi sistem keselamatan dan pengawasan pelayaran di Sulawesi Selatan. Selain kerugian materi berupa tenggelamnya 57 ekor kerbau, nyawa awak kapal juga menjadi taruhan akibat minimnya sistem deteksi dan tanggap darurat.
Kasus ini menegaskan pentingnya peningkatan infrastruktur pelayaran, terutama di wilayah-wilayah rawan yang menjadi jalur lintasan kapal-kapal besar.










