WARTANESIA – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pohuwato, H. Beni Nento, menegaskan pentingnya keseriusan dan komitmen Pemerintah Daerah dalam menyelesaikan persoalan krisis air irigasi yang telah melumpuhkan aktivitas pertanian warga, khususnya di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia.
Pernyataan itu disampaikan Beni usai menerima langsung aspirasi dari Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Manan Lukum bersama para petani setempat, dalam pertemuan yang digelar di Masjid Nurul Iman, Kecamatan Duhiadaa, pada Jumat (13/6/2025).
“Para petani yang hadir, bahkan Ketua P3A tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan keluhan mereka. Sudah lebih dari dua tahun lahan mereka tak bisa dipanen dengan baik. Kondisinya sangat memprihatinkan,” ungkap Beni dengan nada prihatin.
Beni menjelaskan, banyak petani mengeluhkan hasil panen yang menurun drastis. Jika dulu mereka masih bisa mendapatkan 17 hingga 18 karung per musim, kini hanya mampu menghasilkan 4 hingga 5 karung. Hal ini sangat merugikan karena tidak sebanding dengan modal dan tenaga yang telah mereka keluarkan.
“Ini bukan sekadar penurunan hasil, tapi kegagalan panen yang nyata. Pemerintah tidak boleh tutup mata. Saya harap hal ini jadi prioritas utama,” tegas politisi Partai Golkar tersebut.
Beni juga membeberkan bahwa saat ini ada sekitar 4.000 petani dengan total lahan sekitar 3.000 hektare yang sangat terdampak. Menurutnya, kondisi ini sudah cukup menjadi alasan bagi pemerintah daerah untuk segera bertindak dan mencari solusi konkret.
Ia memastikan bahwa DPRD bersama pemerintah daerah akan segera duduk bersama untuk merumuskan langkah penyelesaian, baik jangka pendek maupun jangka panjang, demi menjamin keberlangsungan hidup para petani dan produktivitas sektor pertanian di wilayah itu.
“Saya tahu memang saat ini sedang ada pengerukan dan normalisasi saluran irigasi Duhiadaa-Buntulia. Tapi keluhan para petani masih sama—air tetap tak mencukupi. Artinya, ada yang harus dikaji ulang dan dibenahi,” tutup Beni.
Aspirasi para petani ini menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan di Pohuwato. Ketahanan pangan lokal sangat tergantung pada keberhasilan sektor pertanian yang kini tengah berada di ujung tanduk akibat krisis air irigasi yang tak kunjung terselesaikan. (Lan)







