MBG di Pohuwato Tuai Kritik, Dari Nasi Lengkap ke Paket Takjil

WARTANESIA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program Presiden RI kembali menjadi perbincangan hangat. Bukan karena inovasi menu, melainkan karena isi paket yang dinilai terlalu sederhana dan memantik kritik publik.

Dalam sebuah video yang beredar, Kepala Desa Suka Makmur, Badrun Iyone, memperlihatkan secara detail isi kantong MBG yang dibagikan kepada siswa. 

banner 468x60

Di dalamnya terdapat satu bungkus roti, tiga butir kurma, satu butir telur rebus, dan satu buah pisang matang. Paket tersebut diduga berasal dari wilayah Patilanggio, Kabupaten Pohuwato.

Menu itu pun menuai beragam komentar dari warganet. Salah satunya datang dari Jufrin Albahri yang menyindir dengan menyebut, 

“Maa sambe BungGili (MBG) Makanan Bosadiki Guys (MBG),” sebuah komentar yang menggambarkan kekecewaan publik terhadap isi paket tersebut.

Menanggapi polemik yang berkembang, Erik Sigit Bangga selaku Koordinator Wilayah MBG Pohuwato memberikan penjelasan. Ia menyebut bahwa anggaran MBG telah diatur secara rinci sesuai petunjuk teknis dari pusat.

“Untuk pembelian bahan baku itu di angka Rp8.000 dan Rp10.000. Yang Rp3.000 untuk biaya operasional seperti listrik, Wi-Fi, dan gaji relawan. Kemudian Rp2.000 untuk insentif dan fasilitas dapur. Jadi total Rp15.000 per porsi itu sudah dibagi-bagi,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan MBG di Pohuwato sudah sesuai dengan petunjuk teknis program. Untuk siswa PAUD hingga kelas 3 SD, anggaran bahan baku sebesar Rp8.000 per porsi. Sementara kelas 4 SD hingga SMA sebesar Rp10.000 per porsi.

Erik juga menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, pihaknya melibatkan ahli gizi, kepala SPPG, serta akuntan untuk memastikan menu tetap memenuhi standar kebutuhan gizi anak.

“Kebutuhan yang kita penuhi itu 30 persen dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian atau setara satu kali makan. Karena dalam sehari anak makan tiga kali, jadi yang kita tanggung hanya satu kali makan saja,” ujarnya.

Terkait perbedaan menu sebelum dan saat Ramadhan, ia mengatakan bahwa perubahan lebih kepada jenis makanan. Sebelum Ramadhan, makanan diolah lengkap di dapur, mulai dari nasi, sayur hingga lauk. Namun selama Ramadhan, menu diubah menjadi lebih ringan agar dapat dikonsumsi saat berbuka puasa.

“Untuk Ramadhan kita buat seperti menu takjil, ada kurma, telur rebus, roti, buah. Itu sudah dihitung ahli gizi, karbohidrat dari roti, protein dari telur, dan gula alami dari kurma,” terangnya.

Saat ditanya apakah terdapat perbedaan anggaran sebelum dan selama Ramadhan, Erik menegaskan tidak ada perubahan.

“Sama saja,” katanya singkat.

Meski penjelasan telah disampaikan, perdebatan publik belum sepenuhnya mereda. Sebagian masyarakat menilai transparansi dan kualitas menu perlu dievaluasi agar tujuan mulia program Makan Bergizi Gratis benar-benar dirasakan manfaatnya, bukan justru menjadi bahan sindiran di ruang digital.