Penulis : Riyanto Ismail - Ketua DPD KNPI Provinsi Gorontalo
17 Agustus kembali hadir. Di setiap jalan, bendera merah putih kembali berkibar. Anak-anak berpawai, aparat berbaris rapi, pejabat berdiri gagah membaca naskah proklamasi. Seolah-olah kita semua telah merdeka, seutuhnya. Namun dari tanah yang jauh dari pusat kekuasaan di Gorontalo, di Sulawesi, di Maluku, di Papua kita justru bertanya: Masih layakkah merah putih berkibar di negeri ini, jika keadilan hanya milik mereka yang tinggal dekat istana?
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan asing. Ia adalah hak untuk hidup layak, didengar, dan diperlakukan setara.
Tetapi hari ini, ketimpangan masih menganga. Pembangunan timpang, suara rakyat kecil sering diabaikan, dan sumber daya alam dikeruk tanpa memberi kesejahteraan bagi pemilik tanahnya sendiri.
Di Gorontalo, tambang-tambang besar berdiri megah, tetapi masyarakat adat dan petani kehilangan tanahnya. Proyek-proyek jalan dan investasi digadang sebagai kemajuan, tetapi rakyat kecil terpinggirkan. Pendidikan dan kesehatan masih jadi barang mahal di desa-desa yang jauh dari kota.
Anak-anak sekolah berjalan kaki berkilo-kilo. Internet lambat, tapi janji digitalisasi pendidikan terus didengungkan.
Di mana keadilan yang dijanjikan kemerdekaan?
Banyak anak muda Gorontalo bersekolah dan merantau, berharap bisa mengubah nasib. Tapi setelah lulus, lapangan kerja tidak cukup menyerap mereka.
Banyak yang terpaksa pergi ke kota besar, menjadi buruh atau pekerja informal. Mereka bukan tidak mau kembali membangun daerah, tapi daerah tidak memberi ruang dan harapan.
Apakah ini arti dari 80 tahun Indonesia merdeka?
Namun di tengah ironi dan luka ini, masih ada alasan untuk tidak menyerah. Merah putih bukan hanya milik mereka yang di pusat. Ia adalah milik penambang di marisa ,petani di Tilamuta, nelayan di Kwandang, guru honorer di suwawa, dan mahasiswa yang turun ke jalan demi keadilan.
Selama mereka masih berjuang, selama masih ada yang percaya bahwa negeri ini bisa diperbaiki merah putih masih layak berkibar.
Kita tidak sedang menyalahkan kemerdekaan, tapi menagih janji kemerdekaan. Bahwa negara hadir untuk semua, bukan untuk segelintir orang. Bahwa dari Sabang sampai Merauke bukan sekadar slogan, tapi kenyataan yang adil dan setara.
Maka pada 17 Agustus ini, mari jangan hanya merayakan. Tapi merenung dan bertanya:
Apa arti kemerdekaan jika rakyat masih hidup dalam ketakutan akan penggusuran?
Apa arti kemerdekaan jika keadilan bisa dibeli?
Apa arti kemerdekaan jika suara rakyat dibungkam oleh aparat yang seharusnya mengayomi?
Jawabannya tidak ada pada pemerintah semata, tapi juga pada kita.
Kita yang memilih untuk diam atau bersuara.
Kita yang memilih untuk tunduk atau melawan.
Kita yang memilih apakah merah putih sekadar simbol, atau semangat hidup sejati.
Jeritan dari pelosok negeri
#SALAMPEMUDA
#KNPIGORONTALO












