Kisah Haru Seorang Ayah Tukang Bentor, Antarkan Anak Raih Gelar Hukum

WARTANESIA – Di sebuah desa kecil bernama Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, hidup seorang ayah yang membuktikan bahwa cinta dan keteguhan hati bisa mengalahkan segala keterbatasan.

Namanya Kisman Hasan, namun warga sekitar lebih mengenalnya sebagai Ka Cii, seorang tukang bentor (becak motor) yang setiap hari menembus panas dan hujan demi satu tujuan, menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana.

banner 468x60

Impian itu kini menjadi nyata. Sang anak, Rival Hasan, resmi menyandang gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Negeri Gorontalo.

Pada Rabu (25/6/2025), momen wisuda yang dinanti bertahun-tahun pun tiba. Dalam balutan toga hitam, Rival berdiri gagah di antara para sarjana lain.

Namun di balik kebanggaan itu, ada peluh dan doa tanpa henti dari sepasang orang tua yang tak pernah menyerah meski hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan.

Di momen yang penuh haru itu, terpancar kebanggaan dan kebahagiaan dari wajah Kisman dan sang istri, Fitri Latif. Mereka berpose bangga di samping Rival yang berdiri gagah dalam balutan toga, simbol keberhasilan yang lahir dari kerja keras dan doa tak berkesudahan.

Setiap putaran roda bentor yang dipacu Kisman selama bertahun-tahun menyimpan cerita pengorbanan. Meski tak jarang tubuhnya basah kuyup oleh hujan, memecah jalanan di tengah terik, menembus setiap jengkal lorong di gelap malam. Kini lelahnya seolah sirna melihat anaknya berdiri gagah menjadi seorang sarjana.

“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah. Tidak menyangka anak kami bisa meraih gelar sarjana,” ucap Kisman dengan mata berkaca-kaca.

Namun perjalanan mereka tak selalu mulus. Tak sedikit suara-suara sumbang yang meragukan impian keluarga sederhana ini.

Ada yang mencibir, ada pula yang meremehkan, seolah pendidikan tinggi terlalu mahal untuk dibayar oleh anak seorang tukang bentor.

Tapi Kisman dan keluarganya tak gentar. Mereka menjawab keraguan itu bukan dengan kata-kata, melainkan dengan ketekunan, keyakinan, dan kerja keras yang tak kenal menyerah.

Hari itu, semua perjuangan terbayar lunas saat toga itu akhirnya dipakai Rival, toga yang dulu hanya bisa dibayangkan, kini menjadi kenyataan.

Di hari wisuda, Rival tak henti-hentinya memeluk kedua orang tuanya. Isaknya tertahan, dadanya penuh sesak oleh rasa syukur dan cinta.

“Terima kasih, Papa. Terima kasih, Mama,” ucapnya lirih, sambil memeluk erat. Ia tahu, tak ada kata yang bisa benar-benar membalas semua pengorbanan kedua orang tuanya.

Kisah Ka Cii dan Rival menjadi bukti bahwa, mimpi besar tidak harus lahir dari latar belakang yang besar pula. Kadang, mimpi itu tumbuh di jok bentor yang berdebu, dibesarkan oleh tangan-tangan kasar yang penuh kasih sayang, dan diwujudkan dengan keringat seorang ayah dan ibu yang tak pernah lelah berjuang.

Ini bukan sekadar kisah tentang gelar sarjana, tetapi tentang cinta, keteguhan, dan keyakinan bahwa, pendidikan adalah tangga untuk mengubah nasib. Dan seorang ayah, meski dengan keterbatasan, bisa jadi pahlawan yang membawa anaknya sampai ke puncak tangga itu.

Berita terkait