WARTANESIA — Di bawah permukaan biru Teluk Tomini, ada dunia yang seolah terlepas dari waktu. Dinding karang menjulang, ikan tropis menari di antara arus lembut, dan di sudut-sudut sunyi, berdiri megah spons laut raksasa bernama Salvador Dali sponge — ikon yang hanya bisa ditemukan di perairan Gorontalo.
Namun, keindahan ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari perjalanan panjang: dari para ilmuwan yang menyelam untuk ilmu, pelaku wisata yang memperkenalkan keajaiban lautnya, hingga aparat kepolisian yang menjadikannya misi hidup untuk menjaga surga di dasar laut.
Awal Mula: Menyelam untuk Pengetahuan
Akhir 1980-an. Saat itu, laut Gorontalo belum dikenal wisatawan. Para peneliti dari universitas dan lembaga konservasi datang dengan peralatan seadanya, menyelam bukan untuk liburan, tetapi untuk meneliti. Mereka mencatat, memotret, dan mengidentifikasi spesies di kedalaman Teluk Tomini.
Dari situlah semuanya dimulai. Di balik data dan angka ilmiah, para penyelam menemukan sesuatu yang lebih berharga — pesona alam bawah laut yang belum tersentuh manusia. Kesadaran mulai tumbuh: Gorontalo bukan sekadar laboratorium laut, tapi juga harta karun wisata yang menunggu ditemukan.
Miguel’s Diving: Saat Gorontalo Masuk Peta Dunia
Dua dekade kemudian, tahun 2003 menjadi tonggak penting. Seorang penyelam asal Amerika, Randal L. Michael, mendirikan Miguel’s Diving, operator selam profesional pertama di Gorontalo.
Randal dan timnya menjelajah perairan yang belum dikenal, memetakan dinding karang, dan mendokumentasikan kehidupan bawah laut. Mereka memperkenalkan dunia pada keajaiban seperti Taman Laut Olele, Japanese Cargo Wreck, Sentinela Point, dan Honeycomb Coral Site — lokasi unik dengan karang berbentuk heksagonal yang jarang ditemukan di tempat lain.
Lebih dari sekadar bisnis wisata, Miguel’s Diving membawa misi pelestarian. Mereka melatih masyarakat pesisir menjadi pemandu selam bersertifikat, mengajarkan cara menjaga ekosistem, dan menjadikan Gorontalo dikenal hingga ke halaman majalah internasional seperti Asian Diver dan Scuba Diver AustralAsia. Perlahan tapi pasti, nama Gorontalo terukir di peta selam dunia.
Makhruzi Rahman: Polisi yang Menjaga Laut
Dari sisi lain, muncul sosok yang tak kalah penting: Makhruzi Rahman, seorang perwira Polri yang jatuh cinta pada laut. Sebagai penyelam aktif, Makhruzi bukan hanya menikmati keindahan bawah laut, tapi juga menjadikannya bagian dari tugas dan panggilan hidup.
Ketika menjabat sebagai Kapolres Boalemo dan Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Gorontalo, ia melihat ancaman nyata: praktik penangkapan ikan dengan bahan peledak, perusakan karang, dan ancaman terhadap ekosistem.
Makhruzi menggagas patroli laut terpadu, melibatkan nelayan dan komunitas penyelam lokal. Ia juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi.
“Laut bukan milik siapa pun,” ujarnya dalam Festival Pesona Olele. “Tapi kalau kita semua menjaganya, laut akan terus memberi kehidupan.”
Bersama masyarakat Olele, ia membantu membentuk kawasan konservasi, melatih penyelam pemula, dan memastikan kegiatan wisata berjalan aman serta ramah lingkungan.
Kini, banyak warga pesisir yang tak lagi sekadar menggantungkan hidup dari laut — tapi hidup bersama laut.
Festival dan Geliat Wisata Bahari
Semangat menjaga laut itu tumbuh menjadi gerakan besar. Sejak 2016, Festival Pesona Olele digelar setiap tahun, menampilkan parade kapal nelayan, lomba fotografi bawah laut, dan aksi bersih pantai.
Kemudian ada Tomini Bay Festival, yang mempertemukan komunitas selam dari seluruh Indonesia timur, serta Sail Tomini 2015, yang diikuti pelayar dan penyelam dari 25 negara.
Melalui Gorontalo Diving Festival (GDF), generasi muda dilatih menjadi penyelam konservasi, melakukan reef check, dan ikut menjaga terumbu karang yang menjadi rumah bagi ribuan makhluk laut.
Gorontalo Hari Ini: Surga yang Diharapkan Terus Terjaga
Kini, Gorontalo dikenal sebagai salah satu destinasi selam terbaik di Indonesia. Spot seperti Pulau Saronde, Olele Marine Park, dan Botubarani Whale Shark Point menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara yang ingin berenang bersama hiu paus di laut biru yang tenang.
Namun di balik keindahan itu, ada sesuatu yang lebih penting: kesadaran bersama bahwa keajaiban ini hanya bisa bertahan jika dijaga. Gorontalo bukan sekadar tempat menyelam — ia adalah simbol dari bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam.
Warisan dari Kedalaman
Dari penyelaman ilmiah di era 1980-an hingga komitmen generasi masa kini, sejarah selam di Gorontalo adalah kisah tentang cinta, pengetahuan, dan tanggung jawab.
Di setiap gelembung udara yang naik dari dasar laut Olele, ada pesan abadi yang bergema:
“Menjaga laut berarti menjaga kehidupan.”
Dan hingga kini, di jantung Teluk Tomini, pesan itu terus dijaga — oleh penyelam, nelayan, dan seluruh anak Gorontalo yang mencintai lautnya.







