WARTANESIA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT Pertamina (Persero) mengambil langkah sigap dalam menghadapi ketidakpastian pasar minyak dan gas (migas) global.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik yang berdampak pada pasokan energi dunia, keduanya kini menetapkan status “siaga” guna menjaga ketahanan energi nasional.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa langkah utama yang dilakukan adalah mempercepat penyiapan stok bahan bakar minyak (BBM).
“Sesuai arahan Menteri, kami mengubah posisi menjadi siaga agar penyiapan stok bisa dilakukan sedini mungkin,” ujar Laode, dikutip dari Bloomberg Technoz, Rabu (25/3/2026).
Ia memastikan bahwa pemerintah bersama Pertamina akan menjaga kelancaran impor migas serta mempercepat pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri. Strategi ini dinilai krusial untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi akibat dinamika global.
Dalam upaya memperkuat pasokan, Indonesia mulai mengalihkan sumber impor minyak mentah ke negara-negara yang relatif aman dari jalur konflik.
Kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi prioritas, disusul negara-negara di Afrika dan Amerika yang jalur pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz—wilayah yang saat ini rawan akibat konflik di Timur Tengah.
Laode menegaskan bahwa kecepatan dalam mengamankan sumber impor menjadi kunci utama. Pemerintah juga memilih untuk tidak mengambil risiko dengan mengimpor dari negara-negara yang tengah menghadapi pelonggaran sanksi seperti Iran, Rusia, dan Venezuela.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi, telah menekan pasokan dan memicu fluktuasi harga minyak dunia. Kondisi ini mendorong sejumlah negara mengambil langkah darurat.
Filipina, misalnya, telah menetapkan status darurat energi nasional. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyebut adanya ancaman serius terhadap pasokan energi yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dan layanan publik.
Di sisi lain, Korea Selatan juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terburuk, dengan memperkuat sistem respons preventif terhadap krisis energi berkepanjangan.
Di pasar global, harga minyak sempat mengalami penurunan. Minyak Brent tercatat turun menjadi US$100,37 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$89,29 per barel.
Sementara itu, pemerintah Indonesia memastikan kondisi stok BBM nasional masih dalam batas aman. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebutkan bahwa cadangan BBM mencapai 27 hari, di atas batas minimum 21 hari, sehingga dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan, termasuk selama periode Lebaran 2026.
Data menunjukkan Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, impor terbesar berasal dari Nigeria, Angola, dan Arab Saudi, disusul Brasil dan Australia.
Untuk impor BBM, Singapura dan Malaysia masih menjadi pemasok utama, dengan tambahan dari negara lain seperti China, Korea Selatan, India, hingga Uni Emirat Arab.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tren impor minyak mentah Indonesia cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir, mencapai 15,99 juta ton pada 2025.
Dengan kondisi global yang belum stabil, pemerintah menegaskan akan terus memperkuat strategi mitigasi, mulai dari percepatan impor, pengamanan jalur distribusi, hingga peningkatan cadangan energi nasional.













