WARTANESIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor kejatuhan harian paling parah dalam 28 tahun terakhir atau sejak krisis moneter 1998. Gelombang penyesuaian masif melanda pasar modal domestik setelah dipicu kepanikan investor atas wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi reklasifikasi status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ambles hingga 11,57% atau merosot ke posisi 5.185,11. Anjloknya IHSG hingga belasan persen ini hampir menyamai rekor pelemahan harian terburuk sepanjang sejarah pada 8 Januari 1998 yang saat itu menyentuh 11,95%.
Sepanjang sesi perdagangan akhir pekan ini, indeks bergerak tertekan pada rentang 5.185,11 hingga 5.404,51. Aksi lepas saham membantai mayoritas papan bursa, di mana sebanyak 812 saham melemah, hanya 11 saham yang bertahan menguat, dan 140 saham stagnan.
Dampak kepanikan pasar atas isu MSCI langsung terasa sejak pembukaan bursa. IHSG sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada sesi pagi setelah tersungkur 8,01% ke level 5.393,92. Kebijakan darurat ini diambil seiring dengan menyusutnya nilai kapitalisasi pasar BEI menjadi Rp9.538,22 triliun.
Pemicu utama aksi jual panik (panic selling) ini adalah pengumuman resmi MSCI yang memicu kekhawatiran pelepasan portofolio dana asing secara otomatis, di samping berlanjutnya kebijakan pembekuan indeks (index freeze) untuk saham-saham asal Indonesia.
Saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) dan perbankan yang selama ini menjadi penopang utama IHSG turut berguguran mendekati batas bawah penyesuaian:
Sektor Perbankan Kakap: PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) anjlok 14,81% ke Rp5.175, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melemah 14,84% ke Rp2.640, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terkoreksi 14,82% ke Rp3.390, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) merosot 12,90% ke Rp2.970.
Jajaran Top Losers LQ45: PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) masing-masing anjlok batas maksimum 15%. Disusul PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang terkoreksi 14,97%, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) turun 14,92%, serta PT Indika Energy Tbk. (INDY) tergerus 14,88%.
Merespons koreksi historis tersebut, Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa bursa akan segera meminta waktu klarifikasi kepada MSCI mengenai dasar pertimbangan mereka, mengingat BEI dan OJK telah menjalankan berbagai langkah reformasi pasar.
“BEI menghormati independensi MSCI dalam melakukan penilaian dan menentukan klasifikasi pasar berdasarkan metodologi yang dimilikinya. Namun demikian, dengan mempertimbangkan berbagai kemajuan dan langkah reformasi yang telah dilakukan, BEI akan meminta klarifikasi lebih lanjut kepada MSCI mengenai dasar pertimbangan dan penilaian yang melatarbelakangi pengumuman tersebut,” tegas Jeffrey Hendrik dilansir Wartaekonomi.co.id.









