Fakta Baru Kasus Kematian Pasien Malaria di Paguat, Obat ada Tapi Tidak ada?

WARTANESIA – Kasus meninggalnya seorang pasien, Purwanto Sudarmanto, penderita malaria di Kecamatan Paguat kembali memunculkan fakta baru.

Selain dugaan tidak maksimalnya pelayanan kesehatan, terungkap bahwa hampir seluruh pasien malaria yang menjalani perawatan di Puskesmas Paguat diduga tidak mendapatkan obat-obatan yang seharusnya diberikan.

banner 468x60

Fakta tersebut diungkapkan oleh salah satu keluarga pasien malaria, Muniyarti Tahapali. Ia mengaku, sehari setelah anggota keluarganya yang meninggal dunia dirujuk ke Rumah Sakit Aloei Saboe, ibu kandungnya juga sempat menjalani perawatan di Puskesmas Paguat.

Menurut Muniyarti, saat ibunya dirawat, pihak Puskesmas hanya memberikan resep dokter dan meminta keluarga membeli obat malaria di apotek luar karena obat tidak tersedia di Puskesmas.

“Almarhum dirujuk hari Jumat, lalu Sabtu mama saya masuk puskesmas dan keluar Minggu. Selama dirawat tidak ada obat yang diberikan, hanya resep dokter. Kami disuruh beli obat di apotek. Satu jenis obat harganya Rp135 ribu, dalam resep ada dua jenis, tapi satu obat juga kosong di apotek,” ungkap Muniyarti.

Ia juga menyebutkan bahwa kondisi serupa dialami pasien malaria lain yang dirawat di ruangan yang sama. Beberapa pasien, kata dia, juga diminta membeli obat di luar Puskesmas.

“Pasien di sebelah mama saya juga disuruh beli obat di luar,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan pengakuan salah satu tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Bumi Panua (RSBP), obat-obatan malaria sebenarnya sudah tersedia di Dinas Kesehatan pada saat kejadian tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Puskesmas Paguat, Hendrik Husain, mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pendataan ulang terhadap pasien yang pulang dari Puskesmas tanpa mendapatkan obat malaria.

Ia juga berjanji akan mengganti biaya pembelian obat bagi pasien peserta BPJS yang terpaksa membeli obat di apotek luar.

“Saya sudah perintahkan petugas untuk mengidentifikasi pasien yang tidak mendapatkan obat dari Puskesmas. Biaya pembelian obat di luar akan kami kembalikan. Tadi sudah ada satu pasien yang datang, tapi yang bersangkutan tidak menyampaikan bahwa sebelumnya membeli obat di luar,” ujar Hendrik, Sabtu (24/01/2026)

Dari keterangan salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Paguat, tercatat sedikitnya terdapat sekitar 28 pasien yang ditangani akibat penyakit malaria dalam periode tersebut.