WARTANESIA – Nasib petani sawah di wilayah barat Gorontalo kian memprihatinkan. Jaringan irigasi di Desa Molosipat, Kecamatan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato, dilaporkan tak lagi bisa berfungsi sejak enam bulan terakhir tanpa penanganan serius, membuat para petani kesulitan mendapatkan pasokan air.
Akibat kerusakan tersebut, aliran air tidak lagi ada masuk ke lahan. Kondisi ini menyebabkan potensi gagal tanam.
Salah satu petani, Roni Ismail, mengungkapkan bahwa, kerusakan irigasi sudah berlangsung cukup lama dan semakin parah karena tidak adanya perbaikan permanen dari pihak terkait.
“Sudah kurang lebih enam bulan ini jebol. Kami sempat perbaiki sendiri, tapi karena hanya manual, akhirnya rusak lagi. Bahkan kami sampai patungan sewa ekskavator kecil untuk penanganan darurat,” ujarnya saat diwawancarai melalui sambungan WhatsApp, Sabtu (28/03/2026).
“Penanganan darurat itu tidak permanen. Sekarang sudah dua bulan ini putus lagi, petani sudah tidak bisa menanam lagi,” tambahnya.
Roni juga menyebut bahwa, pemerintah daerah sebelumnya telah turun langsung meninjau lokasi. Namun hingga kini, belum ada realisasi perbaikan yang nyata dari dinas terkait.
Para petani pun berharap Bupati Pohuwato segera turun tangan dan memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan penanganan darurat yang lebih serius dan permanen.
“Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah, khususnya pak bupati, agar masalah ini segera ditangani sebelum kami benar-benar gagal panen,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Pohuwato memastikan akan segera turun langsung meninjau kondisi jaringan irigasi di Desa Molosipat, Kecamatan Popayato Barat, yang dikeluhkan warga karena tidak lagi terairi.
Langkah ini diambil menyusul laporan masyarakat serta kondisi para petani yang terancam gagal tanam dan panen akibat rusaknya saluran irigasi sejak beberapa bulan terakhir.
Kepala Dinas PU mengungkapkan bahwa pihak Balai Wilayah Sungai sebelumnya telah melakukan penanganan awal.
“Sudah ada penanganan dari balai wilayah sungai, namun sedimentasi kembali terjadi dengan cepat. Ini yang akan kita analisis lebih lanjut,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Bupati Pohuwato telah memberikan arahan langsung untuk segera mengkaji kemungkinan penggunaan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebagai solusi jangka pendek.
“Tadi Pak Bupati sudah menelpon, kita diminta untuk mengkaji. Kalau memungkinkan, penanganan awal akan menggunakan dana BTT,” jelasnya.
Menurutnya, permasalahan utama irigasi tersebut disebabkan oleh sedimentasi yang cukup tinggi, diduga akibat aktivitas pertambangan di sekitar wilayah tersebut, sebagaimana juga terjadi di wilayah Taluduyunu.
Sebelumnya, upaya penanganan darurat dengan pengerukan sedimentasi di pintu bendung sempat dilakukan dan aliran air kembali lancar. Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama karena sedimentasi kembali menumpuk dalam waktu singkat.
“Kita pernah lakukan pengerukan dan sempat lancar, tapi sedimentasi cepat sekali kembali. Ini yang jadi tantangan,” tambahnya.
Ia menegaskan, keterbatasan anggaran infrastruktur saat ini menjadi kendala dalam penanganan permanen. Oleh karena itu, penggunaan dana BTT dinilai menjadi opsi paling memungkinkan untuk penanganan cepat.
Rencananya, pada hari Senin mendatang, pihak Dinas PU akan melakukan pengecekan langsung di lapangan, termasuk mengukur panjang saluran yang terdampak sedimentasi.
“Panjang saluran dari bendung sekitar 1,5 kilometer yang sebelumnya kita identifikasi. Tapi kita akan cek lagi kondisi terbaru, apalagi jika aktivitas tambang masih berlangsung,” ungkapnya.
Sementara itu, kondisi petani di wilayah tersebut semakin memprihatinkan. Jaringan irigasi yang jebol sejak sekitar enam bulan terakhir membuat pasokan air ke lahan pertanian terhenti total.
Akibatnya, tanaman padi terancam mati dan sebagian petani bahkan tidak lagi bisa menanam.
Salah satu petani, Roni Ismail, mengaku bahwa kerusakan irigasi sudah lama terjadi dan belum mendapatkan perbaikan permanen.
“Sudah sekitar enam bulan jebol. Kami sempat perbaiki sendiri, bahkan patungan sewa ekskavator kecil, tapi itu hanya sementara,” ujarnya, Sabtu (28/03/2026).
Ia menambahkan, dalam dua bulan terakhir kondisi irigasi kembali putus total sehingga petani tidak lagi bisa menggarap sawah mereka.
“Sekarang sudah tidak bisa menanam lagi. Kami berharap ada penanganan serius dari pemerintah,” tegasnya.








