Dampak Tak Terduga Program MBG: KDRT Disebut Ikut Berkurang

WARTANESIA.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut tidak hanya memberikan dampak terhadap pemenuhan gizi dan kehadiran siswa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi juga diklaim membawa perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, bahkan menyebut angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di wilayahnya mengalami penurunan sejak program MBG berjalan.

Pernyataan tersebut disampaikan Simplisius saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja terkait penanganan dampak gempa bumi di NTT, Rabu (26/8/2026).

Menurut Simplisius, pemerintah daerah melakukan survei informal untuk melihat sejumlah dampak pelaksanaan program MBG di tengah masyarakat.

Dari pemantauan tersebut, ia mengklaim terjadi perubahan pada kondisi sosial masyarakat, termasuk berkurangnya KDRT di sejumlah wilayah yang sebelumnya memiliki tingkat kasus cukup tinggi.

“Yang ketiga juga kami mensurvei dengan kegiatan sosial, di mana dulunya masyarakat dengan tingkat KDRT nya yang tinggi, sekarang berkurang,” ujar Simplisius dalam laporannya.

Ia menduga perubahan tersebut berkaitan dengan meningkatnya penghasilan perempuan yang ikut terlibat dalam pelaksanaan program MBG.

Simplisius menjelaskan, persoalan ekonomi rumah tangga sebelumnya menjadi salah satu pemicu terjadinya pertengkaran. Ketika kebutuhan keluarga tidak terpenuhi dan istri meminta uang kepada suami, kondisi tersebut disebut dapat berkembang menjadi konflik.

Namun, setelah sejumlah perempuan memperoleh penghasilan melalui keterlibatan dalam program MBG, mereka dinilai memiliki sumber pendapatan sendiri.

“Kalau suaminya tidak kasih uang, dia punya uang sendiri dari MBG ini,” katanya.

Menurut Simplisius, kondisi tersebut menjadi salah satu dampak sosial yang sebelumnya tidak banyak diperkirakan dari pelaksanaan program MBG.

Meski demikian, ia mengakui pemerintah daerah belum melakukan penghitungan secara khusus untuk memastikan hubungan langsung antara program MBG dan penurunan kasus KDRT.

“Ini hal yang memang tidak orang bayangkan. Ini kami juga tidak hitung, tapi setelah dalam survei kami, kami temukan keadaan yang macam itu,” ungkapnya.

Selain persoalan KDRT, Simplisius juga menyampaikan sejumlah dampak lain dari pelaksanaan MBG. Salah satunya terkait kehadiran siswa yang disebut meningkat di sekolah-sekolah penerima program.

Ia juga mengungkapkan kondisi kebugaran siswa dinilai lebih baik berdasarkan pemantauan yang dilakukan melalui fasilitas kesehatan setempat.

Bagi Pemerintah Kabupaten Nagekeo, MBG dinilai memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik. Keterlibatan masyarakat dalam program tersebut juga disebut membuka peluang pendapatan bagi warga.

Karena itu, Simplisius berharap pelaksanaan MBG di Nagekeo dapat terus diperluas sehingga manfaat program tersebut dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.

Meski demikian, klaim mengenai penurunan KDRT masih perlu didukung data yang lebih terukur. Sebab, pemerintah daerah sendiri mengakui temuan tersebut berasal dari survei informal dan belum disertai penghitungan khusus mengenai hubungan antara program MBG dengan penurunan kasus KDRT.

(