Camp Penambang Dibongkar Pani Gold, Warga : Haruskah Ada Pertumpahan Darah?

WARTANESIA.ID — Ketegangan kembali memanas di kawasan pertambangan emas Gunung Pani, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato. Sejumlah camp penambang disebut dibongkar oleh pihak perusahaan Pani Gold Mine di tengah persoalan ganti rugi lahan yang hingga kini menjadi sorotan masyarakat.

Situasi tersebut tergambar dalam sebuah video yang dibagikan melalui akun Facebook Ikram Setya Tino, pada Sabtu (5/9/2026).

banner 468x60

Dalam video itu terlihat sejumlah aparat TNI dan Polri berada di lokasi, dengan latar belakang camp penambang yang disebut telah dibongkar.

Dalam unggahannya, Ikram menyampaikan keresahan sekaligus kekecewaan masyarakat penambang terhadap kondisi yang terjadi di kawasan Gunung Pani.

Ia mempertanyakan langkah pemerintah dalam merespons persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait aktivitas penambangan, keberadaan camp, serta proses penyelesaian persoalan lahan.

“Apakah harus terjadi pertumpahan darah baru kalian mau mendengar suara kami?” tulis Ikram dalam unggahannya.

Ia menyebut masyarakat telah berulang kali menyampaikan aspirasi melalui berbagai jalur, mulai dari komunikasi secara langsung hingga penyampaian surat kepada pemerintah.

Menurutnya, masyarakat merasa keberadaan mereka di lokasi tidak mendapatkan solusi yang dianggap adil. Ia juga mengklaim adanya pembongkaran tempat tinggal dan pengambilan alat tanpa penyelesaian maupun musyawarah yang memadai.

Meski menggunakan bahasa keras, Ikram menegaskan masyarakat tidak menginginkan kekerasan maupun pertumpahan darah.

“Kami tidak mau pertumpahan darah. Kami tidak mau kekerasan,” tulisnya.

Ia meminta pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat segera turun tangan dan membuka ruang dialog bersama masyarakat sebelum persoalan tersebut berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

Sementara itu, pihak Pani Gold Mine memberikan penjelasan terkait pembatasan akses dan pembongkaran camp di kawasan perusahaan.

External Affairs Pani Gold Mine, Kurniawan Siswoko, mengatakan pembatasan akses masuk penambang ke area konsesi perusahaan serta pembongkaran camp merupakan bagian dari upaya mengurangi potensi bahaya di kawasan tersebut.

Menurutnya, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama perusahaan, baik bagi masyarakat maupun karyawan.

“Perusahaan mengutamakan keselamatan (safety) bagi masyarakat dan karyawan perusahaan,” kata Kurniawan.

Ia menjelaskan bahwa sebelum dilakukan pembongkaran camp, tim perusahaan telah melakukan sosialisasi dan dialog dengan masyarakat.

Pihak perusahaan juga mengingatkan masyarakat mengenai tingginya aktivitas alat berat di area proyek. Menurut Kurniawan, keberadaan masyarakat di kawasan tersebut dapat menimbulkan risiko kecelakaan, termasuk potensi tertabrak alat berat maupun insiden lainnya.

“Kami mengajak masyarakat untuk mengutamakan keselamatan jiwa,” ujarnya.

Kurniawan juga mengaitkan langkah tersebut dengan insiden tanah longsor yang belum lama ini terjadi di area buffer zone cagar alam. Dalam insiden itu, lima penambang dilaporkan meninggal dunia.

Menurutnya, kejadian tersebut seharusnya menjadi pengingat bersama mengenai pentingnya keselamatan saat beraktivitas di kawasan yang memiliki tingkat risiko tinggi.

“Insiden semacam ini hendaknya menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tidak berkegiatan di area berbahaya dan berisiko,” jelasnya.

Di tengah perbedaan pandangan antara masyarakat dan perusahaan, persoalan Gunung Pani kini kembali menjadi perhatian. Masyarakat meminta adanya penyelesaian yang adil, sementara perusahaan menekankan aspek keselamatan dan pengurangan risiko kecelakaan.

Kondisi tersebut membuat peran pemerintah menjadi penting untuk memastikan persoalan dapat diselesaikan melalui dialog dan mekanisme yang transparan, sehingga ketegangan di lapangan tidak berkembang menjadi konflik terbuka.

Baca berita kami lainnya di

Berita terkait