Oleh : Redaksi WARTANESIA
Pohuwato sedang menanti. Tak hanya menanti pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD Partai Golkar yang dijadwalkan berlangsung antara Agustus-September mendatang, tapi juga menanti babak baru dalam perebutan pucuk kepemimpinan partai berlambang pohon beringin di Bumi Panua.
Musda kali ini bukan sekadar forum formal organisasi. Ia menjelma menjadi arena pertarungan dua sosok kuat yang namanya sudah tidak asing di pentas politik lokal: Beni Nento dan Nasir Giasi. Keduanya kader senior, sama-sama tangguh, sama-sama berpengaruh, namun berbeda dalam pendekatan dan karakter politik.
Beni Nento: Pendatang Lama yang Tak Bisa Dianggap Remeh
Ketua DPRD Pohuwato periode 2024–2029 ini bukan pemain baru. Empat periode duduk sebagai wakil rakyat menjadi bukti kekuatan dan daya tahan politiknya. Dan yang lebih mencolok, Beni berhasil menggeser Nasir Giasi dari kursi Ketua DPRD, sebuah manuver politik yang tak bisa dianggap remeh.
Di Pileg 2024, Beni mencatatkan 1.654 suara pribadi dari total suara partai dan calon sebanyak 5.905. Bukan angka yang fantastis, tapi cukup menunjukkan bahwa ia punya basis yang loyal dan jaringan politik yang bekerja.
Kini, Beni mencoba melangkah lebih jauh: merebut kepemimpinan DPD II Golkar Pohuwato dari tangan Nasir.
Langkah ini bukan tanpa risiko. Tapi bagi seorang politisi sekelas Beni, inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan momentum dan mengukuhkan posisinya di struktur partai, bukan hanya di parlemen.
Nasir Giasi: Petahana Tangguh dan Militan
Di sisi lain, Nasir Giasi bukanlah lawan mudah. Ia dikenal sebagai kader militan, loyal, dan punya catatan panjang bersama Partai Golkar. Dua periode di DPRD Pohuwato dan satu periode di DPRD Provinsi, menjadi bukti kapasitasnya yang teruji.
Sebagai Ketua DPD II Golkar Pohuwato sejak 2020, Nasir telah membawa partai ini melewati berbagai dinamika politik lokal.
Di Pileg 2024, ia mengukir rekor sebagai penyumbang suara terbanyak untuk Golkar dengan raihan 3.289 suara pribadi—dua kali lipat lebih dari perolehan Beni.
Tak hanya itu, Nasir juga disebut-sebut mendapat dukungan solid dari 13 Pengurus Kecamatan (PK) Golkar dan memiliki kedekatan personal dengan Ketua DPD I Golkar Provinsi Gorontalo, Rusli Habibie. Di peta kekuasaan internal, Nasir bukan sekadar petahana—ia adalah simbol konsolidasi dan kesinambungan.
Duel Dua Kekuatan: Pertarungan Gengsi dan Arah
Jika Beni melambangkan energi baru dan semangat transformasi, maka Nasir merepresentasikan kesinambungan dan stabilitas.
Musda mendatang bukan hanya akan menentukan siapa yang akan memimpin Golkar Pohuwato lima tahun ke depan, tetapi juga menggambarkan ke arah mana partai ini akan berlayar: pembaruan struktur di bawah Beni, atau penguatan barisan di bawah Nasir.
Namun politik selalu penuh kejutan. Meskipun angka dan dukungan struktural mengarah pada Nasir, sejarah menunjukkan bahwa politik bukanlah matematika kaku. Ruang kompromi, manuver, bahkan faktor “X” bisa mengubah peta kapan saja.
Kini tinggal satu pertanyaan: Akankah Beni berhasil merebut tampuk kepemimpinan dari tangan Nasir? Atau justru Nasir akan semakin mengokohkan posisinya dan membuka jalan untuk merebut kembali kursi Ketua DPRD dari Beni?
Waktu akan menjawab. Dan Pohuwato, seperti biasa, akan menjadi saksi sejarah.











