WARTANESIA — Ketua Umum Asosiasi Wanita Sosial (AWAS) Provinsi Gorontalo, Christien H. Akim, menyoroti pergeseran peran dan cara pandang perempuan masa kini. Ini disampaikannya dalam sebuah talkshow bertajuk “Wanita Masa Kini, Wanita Mengenal Diri”, yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan Kecamatan Marisa, belum lama ini.
Dalam forum yang dihadiri 20 perempuan dari berbagai latar belakan tersebut, Christien menyampaikan bahwa, perbedaan mendasar antara wanita zaman dulu dan masa kini terletak pada bagaimana mereka mengenal dan menjalani peran kodrati sebagai perempuan, istri, dan ibu.
“Dulu, 95 persen perempuan hidup selaras dengan kodratnya. Mereka memahami tugas-tugas domestik yang dikenal dengan istilah tiga ur: dapur, sumur, dan kasur. Itu bukan bentuk keterbelakangan, melainkan kesadaran akan peran penting di dalam rumah tangga,” ujar Christien di hadapan peserta.
Namun, menurutnya, saat ini angka tersebut mengalami penurunan drastis. Ia menyebut hanya sekitar 10 hingga 15 persen perempuan masa kini yang masih memahami peran kodratinya.
Christien menilai, tren penurunan ini terjadi karena pengaruh besar dari perkembangan teknologi dan media sosial yang mengubah pola pikir perempuan masa kini.
“Banyak wanita sekarang lebih sibuk di media sosial, mencari pembanding, dan justru lebih mengenal orang lain dibandingkan diri sendiri. Akibatnya, mereka menjadi asing dengan jati dirinya sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Christien mengungkapkan bahwa, pergeseran ini tidak hanya berdampak pada cara berpikir perempuan, tetapi juga memicu dinamika baru dalam rumah tangga.
Jika pada masa lalu perempuan menyelesaikan konflik dengan suami melalui diam atau tangisan, wanita sekarang justru meluapkan emosi lewat media sosial.
“Alih-alih berdialog dengan pasangan, banyak wanita sekarang memilih untuk curhat di status, mencari hiburan di TikTok, atau bahkan memamerkan kesedihannya ke publik. Ini menjadi polemik baru dalam relasi rumah tangga,” jelasnya.
Christien menutup pemaparannya dengan harapan bahwa materi yang dibagikan dalam talkshow ini bisa menjadi bahan refleksi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bukan berarti perempuan harus mundur, tapi saya ingin mereka kembali mengenali kodrat dan kekuatan sejatinya. Menjadi perempuan seutuhnya tidak bertentangan dengan kemajuan, asalkan tetap tahu arah dan jati diri,” ujarnya.
Ia berharap materi yang disampaikan dalam talkshow ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau bisa, wanita masa kini bisa kembali mengenal kodratnya sebagai wanita sejati. Bukan mundur ke belakang, tapi kembali pada nilai-nilai dasar yang membuat perempuan kuat dan bermakna,” tutup Christien.



