Bayar Rp5.000, Dapat Lintasan Rusak: Ironi GOR Nani Wartabone

Opini | Kota Gorontalo
Difa Amalia Dude S.EI,M.SEI

Setiap pagi dan sore, puluhan warga Kota Gorontalo masih setia berdatangan ke GOR Nani Wartabone — atau yang akrab disebut Stadion Merdeka. Mereka membayar, berkeringat, lalu pulang dengan rasa campur aduk: senang bisa olahraga, tapi miris dengan kondisi fasilitas yang tak kunjung membaik.

banner 468x60

Berdasarkan pengamatan lapangan, diperkirakan 50 hingga 100 orang aktif berlari di lintasan setiap harinya, belum termasuk anak-anak yang berlatih sepak bola di area lapangan. Setiap pengunjung dikenakan retribusi sebesar Rp 5.000 per orang. Angka yang tidak besar, tapi cukup bermakna jika dikalikan ratusan kunjungan setiap minggu sepanjang tahun.

Pertanyaannya: ke mana uang itu pergi?

Bayar, Tapi Apa yang Didapat?
Warga sudah lama mengeluhkan kondisi lintasan lari di GOR Nani Wartabone yang bergelombang dan terkelupas. Kondisi tersebut dinilai membahayakan dan mengganggu kenyamanan berolahraga. Keluhan juga mengarah pada pungutan retribusi yang dianggap tidak sebanding dengan kualitas fasilitas yang tersedia.

KARPET LINTASAN:Ancaman Nyata yang Diabaikan
“Lintasan yang seharusnya menjadi tempat warga berlari dengan aman, kini justru menjadi medan yang mengintai cedera di setiap langkah.”

Inilah kondisi paling kritis yang wajib mendapat perhatian segera. Karpet lintasan lari GOR Nani Wartabone sudah dalam kondisi rusak parah — terkelupas di berbagai titik, permukaan bergelombang tidak rata, dan lapisan bawahnya mulai terbuka.

Bagi pelari, ini bukan sekadar soal ketidaknyamanan. Ini soal keselamatan:

  • Karpet yang terkelupas ini menciptakan “jebakan” bagi kaki pelari. Ujung karpet yang terangkat bisa menyebabkan tersandung dan jatuh, terutama saat berlari dengan kecepatan tinggi.
  • Permukaan yang bergelombang memaksa kaki mendarat tidak pada posisi yang seharusnya. Dalam jangka panjang, ini memberikan tekanan berlebih pada pergelangan kaki, lutut, dan sendi pinggul — yang bisa berujung pada cedera serius seperti keseleo kronis hingga shin splints
  • Lapisan karpet yang mengelupasjuga berpotensi merobek alas kaki, bahkan melukai telapak kaki bagi yang berlari dengan alas kaki tipis.
  • Saat hujan, bagian karpet yang terkelupas menjadi genangan air tersembunyiyang membuat lintasan semakin licin dan berbahaya.

Ironisnya, lintasan lari adalah satu-satunya fasilitas utama yang dijual kepada publik. Warga membayar Rp 5.000 bukan untuk menikmati gedung, bukan untuk fasilitas mewah — tapi semata untuk bisa berlari di lintasan itu. Dan lintasan itu kini tidak layak.
Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari dua tahun tanpa penanganan serius. Disparpora Kota Gorontalo memang mengakui kerusakan ini, dan menjanjikan perbaikan — namun hingga kini realisasinya belum jelas kapan terwujud.

Track lari yang rusak hanya satu dari sederet masalah. Kamar mandi tidak terurus, rumput-rumput liar tumbuh tak terkendali, dan atap yang sudah mulai rusak menambah daftar panjang keluhan warga. Namun karpet lintasan adalah yang paling mendesak — karena inilah jantung dari fasilitas yang ditawarkan kepada masyarakat.

Lihat Seberang: Gratis, Tapi Jauh Lebih Layak
Ironi ini makin terasa ketika kita menoleh ke GOR David-Tonny di Limboto, Kabupaten Gorontalo. Fasilitas ini memiliki lapangan sepak bola yang dikelilingi jogging track, serta Gedung Sport Center untuk berbagai cabang olahraga indoor. Jogging track-nya dibangun dengan anggaran PEN sebesar Rp2,4 miliar dan diresmikan pada Januari 2022.

Yang paling mencolok: warga menikmatinya tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Bahkan saat ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo tengah merenovasi GOR David-Tonny secara serius, mencakup revitalisasi panggung utama, rehabilitasi rumah atlet, hingga penataan kawasan jogging track untuk menyambut PENAS KTNA XVII Juni 2026.
Kabupaten membangun dan merawat tanpa memungut. Kota memungut tapi tidak merawat.

Retribusi Ada, Perbaikan Entah ke Mana
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 6 Tahun 2020, retribusi lintasan lari GOR Nani Wartabone sudah resmi menjadi bagian dari PAD Kota Gorontalo. Tarif sewa gedung pun ditetapkan dalam Perda Nomor 1 Tahun 2024 — cukup tinggi, tapi tidak diimbangi dengan kualitas fasilitas yang layak.

Inilah ironi yang sesungguhnya: regulasi sudah ada, tarif sudah ditetapkan, uang sudah masuk kas daerah — tapi lintasan lari justru semakin rusak dari tahun ke tahun.

Potensi PAD yang Terbuang Sia-sia
Dengan 50–100 pengunjung per hari dikali Rp 5.000, GOR ini berpotensi menghasilkan Rp 90 juta hingga Rp 180 juta per tahun hanya dari retribusi pintu masuk. Angka itu bisa berlipat ganda jika karpet lintasan diperbaiki, fasilitas dibenahi, dan lebih banyak warga merasa aman dan nyaman berolahraga di sini.

Sudah Waktunya Bergerak
Pemerintah Kota Gorontalo perlu segera mengambil langkah konkret: perbaiki karpet lintasan lari sebagai prioritas pertama, alokasikan anggaran yang memadai, dan tetapkan target penyelesaian yang terukur.

Masyarakat tidak menolak membayar. Yang mereka tolak adalah ketidakadilan: membayar Rp 5.000 untuk berlari di lintasan yang justru bisa mencelakai mereka — sementara di Kabupaten sebelah, warga berlari gratis di atas lintasan yang layak.

GOR Nani Wartabone adalah wajah komitmen pemerintah kota terhadap kesehatan warganya. Dan saat ini, wajah itu sudah kusam — sudah saatnya dipoles kembali, dimulai dari hal yang paling mendasar: lintasan yang aman untuk berlari.

Opini ini ditulis berdasarkan pengamatan lapangan dan data dari berbagai sumber media lokal Gorontalo.

Berita terkait