WARTANESIA.ID – Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Pohuwato, Sirwan, melontarkan kritik keras terhadap oknum penasehat perusahaan tambang yang dinilai telah mengeluarkan narasi tidak patut dan jauh dari etika komunikasi publik.
Pernyataan itu disampaikan Sirwan dalam sebuah forum diskusi di Kabupaten Pohuwato yang kemudian dikutip awak media, pada Jumat (15/05/2026).
Menurut Sirwan, narasi yang disampaikan oknum tersebut dinilai mengandung bahasa kasar serta ujaran yang tidak layak disampaikan oleh seseorang yang menyandang posisi sebagai penasehat perusahaan.
“Patut disikapi orang ini harus dipecat oleh perusahaan, narasi dan gaya bahasa kasar mengandung ujaran kebencian sangat tidak layak jadi penasehat perusahaan,” tegas Sirwan.
Ia menilai, pernyataan tersebut tidak hanya mencederai etika komunikasi, tetapi juga berpotensi memperkeruh situasi di tengah dinamika persoalan pertambangan yang tengah menjadi perhatian masyarakat di Pohuwato.
Sirwan juga menegaskan bahwa pihaknya bersama seluruh kepala desa se-Kabupaten Pohuwato merasa keberatan atas pernyataan oknum penasehat perusahaan yang melabeli pihak tertentu dengan sebutan “penjahat”.
“Apdesi dan seluruh kepala desa se-Kab pohuwato tidak terima statement oknum penasehat perusahan penambang dijuluki label penjahat,” ujarnya.
Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan adu argumen antara seorang pria yang diduga karyawan perusahaan tambang Pani Gold Mine dengan sejumlah penambang viral di media sosial, Rabu (13/5/2026).
Dalam video tersebut, pria berbaju hijau yang mengaku sebagai Sukriyanto Puluhulawa, terlihat terlibat perdebatan terkait persoalan lahan warga yang kini dikuasai pihak perusahaan.
Salah satu sumber menyebut, perdebatan itu dipicu persoalan ganti rugi lahan milik masyarakat yang dinilai belum terselesaikan.
Namun, yang menjadi sorotan publik adalah ucapan oknum karyawan tersebut yang dianggap arogan dan merendahkan para penambang.
“Pantang bernegosiasi dengan penjahat (penambang),” ujar pria itu dalam video yang beredar.
Ucapan tersebut memicu reaksi keras dari para penambang. Mereka mengaku keberatan dan tidak menerima pernyataan yang dinilai menyudutkan masyarakat penambang tradisional.
“Kalimat penjahat yang dialamatkan kepada kami itu tidak dapat kami terima. Jauh sebelum perusahaan masuk, kami secara turun-temurun sudah berada di sini untuk menambang,” ujar salah satu penambang.
Menurut mereka, kehadiran perusahaan tambang justru membuat masyarakat kehilangan mata pencaharian, bahkan memicu konflik sosial di tengah warga.
Sementara itu, pihak Pani Gold Mine melalui Humas, Ezra Melita Sitanggang, menjelaskan bahwa, pria dalam video tersebut merupakan advisor dari salah satu tim atau departemen perusahaan.
Ezra mengatakan, situasi di lapangan saat kejadian berlangsung cukup dinamis dan terjadi eskalasi ketegangan dari berbagai pihak, sehingga peristiwa itu perlu dipahami secara utuh dan tidak hanya berdasarkan potongan video yang beredar.
“Pada prinsipnya, perusahaan tetap mengedepankan pendekatan humanis, persuasif, dan komunikasi yang baik dalam setiap aktivitas maupun interaksi di lapangan. Hal-hal yang menjadi perhatian publik tentu akan menjadi bahan evaluasi internal bagi perusahaan,” jelas Ezra,











