Ti Bulilango Hunggia Itu Telah Pergi

Hari ini, Gorontalo kehilangan satu putra terbaiknya. Indonesia kehilangan seorang negarawan yang memilih bekerja dalam senyap, sementara sejarah kehilangan satu lembar kisah tentang pengabdian yang tulus.

Ti Bulilango Hunggia telah pergi.

banner 468x60

Gelar adat itu bukan sekadar penghormatan. Ia adalah pengakuan atas cahaya yang pernah dihadirkan bagi negeri. Sang Pemberi Cahaya Negeri kini telah kembali kepada Sang Pemilik Cahaya.

H. Rachmat Gobel mengembuskan napas terakhir pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB di RS Brawijaya Tebet, Jakarta Selatan, dalam usia 63 tahun. Lahir pada 3 September 1962, beliau meninggalkan jejak panjang sebagai pengusaha, negarawan, sekaligus putra daerah yang tidak pernah memutus ikatan batinnya dengan tanah kelahirannya, Gorontalo.

Kariernya mencerminkan perjalanan pengabdian yang utuh. Ia pernah mengemban amanah sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2014–2016, menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2019–2024, dan kemudian mengabdi sebagai Anggota DPR RI Komisi VI. Namun, jabatan-jabatan itu bukanlah hal yang paling diingat.

Yang dikenang adalah sosoknya.

Seorang wakil rakyat yang sedikit bicara, tetapi banyak berbuat.

Di tengah riuhnya panggung politik yang sering dipenuhi kata-kata, Rachmat Gobel memilih membuktikan dirinya melalui kerja nyata. Ia percaya bahwa hasil jauh lebih bermakna daripada sekadar janji. Ia tidak mengejar sorotan, tetapi menghadirkan manfaat.

Sebagai penerus Gobel Group, ia melanjutkan warisan sang ayah, H. Thayeb Mohammad Gobel, dengan semangat membangun bangsa melalui dunia usaha. Namun, sebesar apa pun kiprahnya di tingkat nasional, Gorontalo tidak pernah kehilangan tempat di hatinya. Daerah ini selalu ia bawa dalam setiap langkah, setiap gagasan, dan setiap ikhtiar.

Karena itulah masyarakat Gorontalo menganugerahkan gelar adat Ti Bulilango Hunggia—Sang Pemberi Cahaya Negeri. Sebuah penghormatan yang lahir bukan semata karena jabatan atau keberhasilan, melainkan karena dedikasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kini cahaya itu telah padam di mata manusia, tetapi sinarnya akan terus hidup dalam karya, inspirasi, dan pengabdian yang ditinggalkannya.

Jenazah almarhum H. Rachmat Gobel rencananya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, setelah salat Jumat. Sebuah tempat peristirahatan terakhir yang menjadi simbol penghormatan atas jasa kepada bangsa dan negara.

Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam. Namun setiap pengabdian yang dilakukan dengan keikhlasan tidak pernah benar-benar berakhir. Ia akan hidup dalam kenangan, dalam pembangunan yang pernah diperjuangkannya, dan dalam doa-doa yang terus dipanjatkan.

Selamat jalan, H. Rachmat Gobel.

Terima kasih atas dedikasi, keteladanan, dan cinta yang telah engkau persembahkan untuk Indonesia, terlebih untuk Gorontalo.

Jasa dan pengabdianmu akan tetap dikenang, melintasi waktu dan generasi.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Ti Bulilango Hunggia itu telah pergi. Namun cahaya yang pernah ia nyalakan akan terus menerangi negeri. (Redaksi WARTANESIA.ID)