WARTANESIA.ID – Seorang siswa kelas X SMAN 1 Kota Gorontalo diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa di lingkungan sekolah, Senin (19/10/2026).
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 Wita, saat jam istirahat berlangsung.
Korban yang berusia 15 tahun itu kini masih mengeluhkan sakit di bagian belakang kepala setelah kejadian tersebut.
Kasus dugaan pengeroyokan ini telah dilaporkan korban dan orang tuanya kepada pihak berwajib.
Sementara itu, pihak sekolah melakukan penanganan internal dan mengidentifikasi siswa yang diduga terlibat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Kota Gorontalo, Zulham Firmansyah, mengatakan pihak sekolah telah menjalankan mekanisme penanganan sesuai tata tertib sekolah.
“Orang tua sudah melapor, korban sudah melapor, ini sementara proses. Dan kami dari pihak sekolah juga sudah menjalankan tata tertib yang ada di sekolah,” kata Zulham saat diwawancarai, Selasa (20/10/2026).
Zulham menjelaskan, berdasarkan informasi awal yang dihimpun pihak sekolah, kejadian tersebut diduga bermula dari gestur wajah korban yang dianggap tidak menyenangkan oleh siswa lain.
Persoalan itu kemudian berujung pada keributan di lingkungan sekolah.
Namun, penyebab dan rangkaian kejadian masih perlu didalami lebih lanjut melalui pemeriksaan pihak terkait.
Zulham mengungkapkan, pihak sekolah tidak mengetahui adanya perselisihan pribadi sebelumnya yang berujung pada peristiwa tersebut.
Saat kejadian, sejumlah siswa berada di sekitar aula sekolah. Beberapa siswa disebut sedang bermain sepak bola ketika keributan terjadi.
Menurut Zulham, dua orang guru sempat berusaha melerai siswa yang terlibat. Mereka meminta para siswa menghentikan tindakan tersebut, tetapi imbauan itu tidak langsung diindahkan.
“Ada dua orang guru pada saat kejadian itu. Anak-anak itu dilarang, jangan berpukul, jangan berpukul. Tapi tidak didengar oleh siswa,” ujar Zulham.
Meski sudah ada upaya melerai, situasi tidak langsung terkendali. Pihak sekolah kemudian mengumpulkan informasi untuk mengetahui siswa yang terlibat serta rangkaian kejadian yang sebenarnya.
Pihak sekolah mengidentifikasi sekitar 21 siswa yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Namun, Zulham menegaskan jumlah itu belum dapat dimaknai sebagai jumlah siswa yang seluruhnya melakukan pemukulan.
Menurut dia, beberapa siswa mengaku hanya menyaksikan kejadian, sedangkan sebagian lainnya mengakui melakukan pemukulan.
“Totalnya itu kami tidak tahu jumlahnya berapa, tetapi teridentifikasi ada sekitar 21 orang. Di antara 21 orang itu, kami tidak bisa memastikan mana yang melakukan pemukulan dan mana yang menjadi saksi,” ungkapkan Zulham.
Karena itu, pihak sekolah masih mengumpulkan keterangan untuk membedakan peran masing-masing siswa.
Selain meminta keterangan siswa, sekolah juga mengumpulkan rekaman video yang diperoleh dari siswa serta rekaman kamera pengawas atau CCTV di lingkungan sekolah.
Zulham mengaku rekaman tersebut digunakan untuk membantu proses identifikasi, termasuk mengetahui siapa saja yang diduga melakukan pemukulan.
Pihak sekolah belum menyimpulkan bahwa seluruh siswa yang teridentifikasi melakukan tindakan kekerasan. Penentuan peran masing-masing siswa masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Korban diketahui berusia 15 tahun dan duduk di kelas X atau kelas satu SMA.
Sementara itu, sejumlah siswa yang diduga terlibat berada di kelas XII, dengan usia rata-rata sekitar 17 tahun.
Berdasarkan informasi terkini, korban masih mengeluhkan sakit di bagian belakang kepala setelah kejadian tersebut.
Zulham mengucapkan, informasi mengenai kondisi korban sebelumnya diperoleh dari orang tua korban. Ia mendapat keterangan bahwa terdapat lebam di bagian belakang tubuh korban.
“Kalau kondisi korban saat ini, saya belum pastikan. Saya sudah tanya ke orang tuanya bahwa di bagian belakang itu lebam dan katanya bagian belakang itu sakit,” ujar Zulham.
Ia mengakui pihak sekolah belum memeriksa langsung kondisi korban setelah kejadian. Sekolah berencana mengunjungi korban untuk mengetahui keadaannya.
Kondisi medis korban, termasuk penyebab keluhan sakit di bagian belakang kepala, masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan tenaga kesehatan.
Lebih lanjut Zulham menjelaskan, SMAN 1 Kota Gorontalo memiliki sekitar 1.100 siswa dengan jumlah guru sekitar 80 orang.
Jumlah tersebut merupakan data SMAN 1 dan tidak termasuk siswa dari sekolah lain yang juga berada dalam satu kawasan.
Menurut dia, keterbatasan area sekolah menjadi tantangan dalam mengawasi aktivitas siswa, khususnya ketika jam istirahat.
Area sekolah yang tidak mencapai satu hektare harus menampung aktivitas siswa dalam jumlah besar. Akibatnya, sejumlah tempat, termasuk kantin, kerap dipadati siswa saat jam istirahat.
“Kalau melihat keadaan sekolah sekarang, dengan area yang cukup sempit, guru-guru itu agak kewalahan. Pada jam istirahat, anak-anak paling banyak di kantin, sementara kantin tidak cukup menampung semuanya,” kata Zulham.
Ia mengatakan sekolah mengandalkan CCTV untuk membantu pengawasan. Pihak kesiswaan juga menerima informasi dan rekaman video dari siswa apabila terdapat kejadian yang perlu ditindaklanjuti.
Namun, pengawasan langsung di seluruh area sekolah memiliki keterbatasan ketika jam istirahat berlangsung. Pada waktu tersebut, para guru juga menggunakan waktu untuk beristirahat maupun menjalankan ibadah.
Meski demikian, Zulham menyebut terdapat dua guru yang berada di sekitar lokasi ketika kejadian berlangsung. Keduanya berupaya melerai siswa, tetapi imbauan untuk menghentikan keributan tidak segera diindahkan.
Pihak sekolah kini melanjutkan pengumpulan informasi dan penanganan internal. Peristiwa tersebut juga menjadi perhatian terkait pengawasan siswa di area sekolah, terutama ketika jam istirahat.















