WARTANESIA – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pohuwato kembali menjadi sorotan warga. Kali ini, keluhan datang dari orang tua siswa di SDN 07 Marisa, Kecamatan Marisa.
MBG yang dibagikan pada Selasa (10/3/2026) dilaporkan terdiri dari empat jenis makanan, yakni pisang, kacang, telur, dan roti.
Namun, sebagian orang tua siswa menyoroti kondisi pisang dan roti yang dibagikan. Mereka menduga roti tersebut tampak berjamur, sementara beberapa pisang dinilai terlalu matang hingga terlihat seperti membusuk.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SDN 07 Marisa, Titi Katilie, membantah adanya pembagian makanan yang berjamur maupun membusuk kepada siswa.
“Itu tidak benar, Pak. Roti tersebut menggunakan misis, bukan jamur. Hal itu juga sudah kami konfirmasi ke bagian gizi SPPG Marisa. Begitu juga dengan pisang yang disebut busuk, sebenarnya itu hanya pisang yang sudah matang,” ujar Titi Katilie saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, pihak sekolah sempat menarik kembali paket MBG yang akan dibagikan kepada siswa setelah muncul informasi tersebut. Namun setelah diperiksa dan diteliti, tidak ditemukan roti yang berjamur.
Titi juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua siswa, agar tidak langsung menyimpulkan atau menyebarkan informasi sebelum melakukan klarifikasi.
“Kami berharap masyarakat, terutama orang tua siswa, tidak langsung mengklaim jika ada hal yang dianggap tidak sesuai. Sebaiknya dilakukan pengecekan dan klarifikasi terlebih dahulu,” tambahnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pohuwato melalui Dinas Pendidikan mengambil inisiatif untuk melakukan pengecekan langsung di lapangan guna memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Kepala Dinas Pendidikan Pohuwato, Arman Mohamad, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan pemeriksaan serta berkoordinasi dengan pihak sekolah.
“Meski secara teknis kami tidak terlibat langsung dalam program MBG, Dinas Pendidikan mengambil inisiatif untuk melakukan pemeriksaan di lapangan guna memastikan informasi yang beredar. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah,” ujar Arman.
Langkah tersebut menurutny dilakukan untuk memastikan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa tetap terjaga serta mencegah kesalahpahaman di tengah masyarakat.













