WARTANESIA – Atmosfer panas mewarnai lanjutan kualifikasi Bupati Pohuwato Cup 2025 di Stadion Bumi Panua, Kecamatan Marisa, ketika laga antara PSIR Randangan dan Persma Marisa nyaris berakhir ricuh.
Ketegangan memuncak saat gol penyeimbang dari PSIR Randangan memicu protes keras dari pihak Persma.
Pertandingan yang dipimpin oleh wasit Syarif Ohorela ini diwarnai drama pada menit ke-83. Fendi Sefawanto, pemain PSIR Randangan, sukses menjebol gawang Persma Marisa dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3.
Namun, gol tersebut langsung menuai kontroversi setelah dinilai oleh kubu Persma sebagai hasil dari posisi offside.
Protes keras pun dilayangkan oleh para pemain dan official Persma kepada hakim garis. Saling dorong tak terelakkan di pinggir lapangan, hingga memaksa wasit menghentikan laga sementara waktu.
Petugas kepolisian yang bersiaga segera turun tangan untuk meredakan ketegangan dan mengamankan situasi.
Setelah kondisi kembali kondusif, pertandingan dilanjutkan dengan skor imbang 3-3 hingga peluit akhir dibunyikan.
Pelatih Persma Marisa, Ramis Madu, menyuarakan kekecewaannya atas kepemimpinan wasit sepanjang pertandingan. Ia menilai beberapa keputusan sejak babak pertama merugikan timnya.
“Tentu kami merasa sangat dirugikan. Kami berharap, ke depan, para wasit dan hakim garis bisa lebih profesional. Kejadian tadi adalah bentuk spontanitas karena rasa tidak puas terhadap keputusan wasit,” ujar Ramis kepada wartawan usai pertandingan.
Kendati hanya bermain imbang, hasil tersebut cukup untuk mengantarkan Persma Marisa lolos ke babak 8 besar sebagai runner-up grup, dengan mengoleksi 4 poin, beda 3 angka dari pemuncak klasemen di Group D, Duhiadaa FC dengan 7 Poin.
Insiden ini menambah daftar kericuhan yang terjadi dalam gelaran Bupati Pohuwato Cup 2025. Sebelumnya, ketegangan antara official tim dan wasit juga terjadi pada laga pembuka antara Lemito FC melawan Buntulia FC, di mana salah satu pemain Buntulia FC harus dilarikan ke RS Bumi Panua Pohuwato akibat cedera serius.









