WARTANESIA.ID – Senja seharusnya menjadi waktu untuk pulang, melepas penat setelah seharian bekerja, lalu berkumpul bersama keluarga.
Namun, bagi Ismet Mohamad, beberapa pekan terakhir memiliki cerita berbeda.
Setiap kali jam kerja berakhir, ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pohuwato yang bertugas di Dinas Pangan ini justru kembali menyalakan mesin mobil pickup pribadinya. Bukan untuk perjalanan pulang, melainkan membawa air bersih untuk warga yang tengah kesulitan.
Hanya bermodalkan sebuah tandon berkapasitas 1.100 liter yang dipasang di mobil pribadinya, Ismet menyusuri sejumlah wilayah di Kecamaran Marisa untuk mendistribusikan air bersih.
Sudah lebih dari dua pekan kebiasaan itu ia jalani. Tidak ada seragam khusus. Tidak ada kendaraan besar. Tidak pula rombongan yang mengiringi. Ismet berjalan sendiri.
Usai menunaikan tugasnya sebagai Kepala Bidang Pangan, ia memilih menyisihkan waktu, tenaga, bahkan sebagian penghasilannya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih akibat kemarau panjang.
Baginya, apa yang dilakukan mungkin tidak seberapa. Namun, ketika satu tandon air mampu mengisi kembali wadah-wadah kosong milik warga, di situlah ia merasa bantuan kecil itu memiliki arti.
“Alhamdulillah, sudah lebih dari dua pekan. Tidak seberapa, tapi semoga bisa membantu saudara-saudara kita yang kesulitan air bersih,” ungkap Ismet, Kamis (17/9/2026).
Di tengah kemarau yang membuat air bersih menjadi sesuatu yang semakin sulit didapat, langkah sederhana Ismet menjadi gambaran bahwa kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, kepedulian hanya membutuhkan satu tandon air. Satu mobil pribadi. Sedikit waktu setelah pulang kerja. Dan hati yang tergerak ketika melihat orang lain sedang kesulitan.
Ketika sebagian orang memilih beristirahat setelah seharian bekerja, Ismet justru memilih melanjutkan perjalanan. Ia membawa sesuatu yang sangat sederhana, tetapi begitu berarti bagi mereka yang sedang menunggu: air bersih.
Tandon 1.100 liter itu mungkin tidak mampu menjangkau seluruh warga yang membutuhkan. Tetapi setiap tetes yang mengalir darinya adalah bentuk kepedulian.
Di tengah musim kemarau panjang, ketika sumur mengering dan kebutuhan air semakin mendesak, aksi Ismet mengingatkan bahwa gotong royong masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
Sebab dalam kondisi seperti ini, membantu tidak selalu tentang seberapa banyak yang bisa diberikan.
Terkadang, yang paling berarti adalah kesediaan untuk datang.
Dan Ismet memilih datang, setiap hari, sepulang kerja, dengan satu tandon air di atas mobil pribadinya.









