Miris! Siswa SMP Muhammadiyah Duhiadaa Belajar Komputer Tanpa Komputer

WARTANESIA.ID – Ironi menggambarkan kondisi SMP Muhammadiyah Utama Pohuwato yang berada di Desa Buntulia Barat, Kecamatan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato. Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pendidikan dan penguasaan teknologi, sekolah ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas yang cukup memprihatinkan.

Sekolah yang dibangun pada 2017 dan diresmikan pada 2018 tersebut dinilai masih minim perhatian. Sejak awal beroperasi, berbagai fasilitas penunjang pendidikan di sekolah itu belum sepenuhnya tersedia.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah gedung laboratorium komputer. Bangunan yang dibangun pada 2024 itu hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal lantaran tidak memiliki perangkat komputer.

“Ruang komputer ini dibangunnya tahun 2024, tapi sampai sekarang tidak bisa digunakan karena tidak ada komputer,” ungkap Kepala SMP Muhammadiyah Buntulia, Siap pak Abdul Malik, S.Pd.I, saat ditemui WARTANESIA.ID, Jumat (21/8/2026).

Menurut Abdul Malik, kondisi tersebut membuat para siswa hanya dapat mempelajari materi komputer secara teori tanpa mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik secara langsung.

“Anak-anak hanya belajar komputer lewat bacaan. Untuk praktik langsung belum bisa karena fasilitas komputernya belum ada,” jelasnya.

Tak hanya laboratorium komputer, kondisi serupa juga terjadi pada fasilitas perpustakaan. Menurutnya, jumlah buku yang tersedia di perpustakaan sekolah masih sangat terbatas sehingga belum mampu menunjang kebutuhan literasi para siswa secara optimal.

“Soal perpustakaan ini buku-bukunya hanya sedikit sekali. Dan ini sudah lama, Pak,” ujarnya.

Abdul Malik berharap pemerintah, khususnya melalui Dinas Pendidikan, dapat memberikan perhatian terhadap kondisi fasilitas di SMP Muhammadiyah Buntulia.

Ia berharap bantuan berupa perangkat komputer, buku-buku serta fasilitas penunjang lainnya dapat diberikan sehingga proses belajar mengajar di sekolah tersebut bisa berjalan lebih optimal.

“Kami berharap pemerintah lewat Dinas Pendidikan bisa memberikan perhatian dan membantu memenuhi fasilitas yang masih kurang,” harapnya.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama agar keberadaan sekolah tidak sekadar memiliki gedung, tetapi juga ditunjang fasilitas pendidikan yang layak dan memadai bagi para siswa.