WARTANESIA.ID – Kabut asap yang sudah terasa di Gorontalo sejak dua hari lalu tidak mengganggu operasional penerbangan di Bandara Djalaludin. Seluruh pesawat tetap dapat mendarat dan lepas landas karena jarak pandang masih di atas batas minimum keselamatan.
Kepala Bandara Djalaludin Gorontalo, Joko Harjani, menjelaskan bahwa kabut asap mulai terasa sejak dua hari lalu dan berlanjut pada Kamis 15 Oktober 2026. Pada pagi hari, jarak pandang di bandara sempat turun hingga sekitar 3.000 meter.
“Kemarin kabut asap di pagi hari, jarak pandang bandara sempat ada di sekitar 3.000 meter. Alhamdulillah dengan jarak pandang itu semua pesawat masih bisa beroperasi di Bandara Djalaludin,” ujar Joko.
Kondisi serupa terjadi pada Kamis pagi. Jarak pandang kembali berada di kisaran 3.000 meter, tetapi penerbangan tetap berjalan normal, termasuk penerbangan Batik Air.
“Hari ini, tadi pagi juga sama, jarak pandang ada di 3.000 meter, sehingga penerbangan tadi berjalan dengan normal,,” katanya.
Menjelang siang, kondisi membaik. Menurut Joko, pada pukul 12.00 Wita jarak pandang naik menjadi 4.000 hingga 5.000 meter.
“Siang ini pada pukul 12 tadi, alhamdulillah jarak pandang mengalami kenaikan, sudah ada di angka 4.000 sampai dengan 5.000 meter. Tentunya jauh lebih baik daripada pagi tadi,” ucapnya.
Ia menambahkan berdasarkan perkiraan BMKG Stasiun Meteorologi Djalaludin, kabut asap ini berasal dari dua sumber. Pertama, asap kiriman dari Papua Selatan. Kedua, kebakaran lahan di wilayah Provinsi Gorontalo sendiri.
“Berdasarkan perkiraan dari BMKG Stasiun Meteorologi Djalaludin di bandara, situasi ini terjadi akibat kiriman asap dari Papua Selatan, ditambah dengan kebakaran lahan yang ada di Provinsi Gorontalo sendiri,” jelas Joko.
Meski demikian, pihaknya optimistis kondisi akan membaik. Pantauan citra satelit dan arah angin menunjukkan kabut asap berpotensi berkurang besok.
“Berdasarkan pantauan dari citra satelit dan arah angin, mudah-mudahan besok kabut asapnya sudah mulai berkurang. Tentu harapan kami jarak pandang bisa lebih dari 5.000 meter,” tuturnya.
Joko menegaskan bahwa Bandara Djalaludin telah menerapkan prosedur penerbangan instrumen (instrument flight procedure). Prosedur ini didukung alat bantu pendaratan instrument landing system (ILS), sehingga pesawat tetap dapat beroperasi dalam kondisi jarak pandang terbatas.
“Di Bandara Djalaludin ini kita sudah menerapkan instrument flight procedure, yaitu penerbangan instrumen dengan alat bantu pendaratan instrument landing system,” kata Joko.
Batas jarak pandang minimum untuk operasi dengan peralatan instrumen tersebut adalah 3.000 meter. Dengan kondisi saat ini, ia memastikan penerbangan masih berada dalam kategori aman.
“Jarak pandang minimum dengan peralatan instrumen itu adalah 3.000 meter. Jadi bisa dikategorikan penerbangan masih aman untuk beroperasinya take off dan landing pesawat di Bandara Djalaludin,” pungkasnya.









