Irigasi Rusak, Sawah Kering, Pasokan Beras Pohuwato Bergantung dari Makassar

WARTANESIA.ID — Lumpuhnya aktivitas pertanian akibat kerusakan jaringan irigasi dan musim kemarau di Kecamatan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, mulai berdampak pada perdagangan, khususnya ketersediaan dan harga beras di daerah tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Perindagkop dan UKM) Kabupaten Pohuwato, Ibrahim Kiraman, mengakui menurunnya aktivitas panen petani di sejumlah wilayah turut memengaruhi kondisi perdagangan beras.

Menurut Ibrahim, selama persawahan di Pohuwato masih berproduksi dan petani dapat melakukan panen secara normal, kebutuhan beras masyarakat masih terbantu oleh produksi lokal. Kondisi itu membuat harga beras di pasaran relatif lebih terkendali.

Namun, ketika produksi petani menurun dan lahan persawahan tidak lagi dapat ditanami, ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah semakin besar.

“Yang jelas, kalau kita bicara dari sisi perdagangannya, memang dampak dari petani Pohuwato yang tidak melakukan panen itu juga berpengaruh terhadap harga yang ada di Kabupaten Pohuwato,” kata Ibrahim saat dikonfirmasi, Selasa (1/9/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berbeda ketika sawah-sawah di Pohuwato masih beroperasi normal dan siklus panen berlangsung seperti sebelumnya.

“Kalau dulu-dulu sawah-sawah kita beroperasi atau melakukan panen, sehingga harga beras ini tidak seperti ini, tidak ada kenaikan,” ujarnya.

Ibrahim mengatakan, saat ini ketersediaan beras di Pohuwato masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah, khususnya Sulawesi Selatan.Sebagian besar beras yang beredar di pasar-pasar Pohuwato didatangkan melalui jalur distribusi dari Makassar.

Ketergantungan tersebut membuat harga beras ikut dipengaruhi oleh biaya transportasi dan distribusi.

“Karena memang stok beras yang ada di Pohuwato itu hanya dari Sulawesi Selatan, memang pasokannya hanya dari Makassar. Sehingga memang biaya transportasi itu melonjak,” jelasnya.

Menurutnya, kenaikan biaya distribusi kemudian turut berdampak pada harga jual beras di tingkat pedagang.

“Sehingga juga pedagang pengecer yang ada di Pasar Marisa dan pedagang beras itu menaikkan harga,” tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi pertanian di Kecamatan Duhiadaa yang semakin memprihatinkan akibat kerusakan jaringan irigasi dan kemarau berkepanjangan.

Kerusakan jaringan irigasi yang dipicu sedimentasi, ditambah minimnya pasokan air akibat musim kemarau, membuat sebagian besar lahan persawahan di wilayah tersebut tidak lagi dapat ditanami.

Ketua Gabungan sekaligus Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Tersier Duhiadaa, Abdul Rahman Lukum, sebelumnya mengungkapkan bahwa persoalan irigasi telah berlangsung sejak akhir 2023 dan terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Dari total potensi lahan pertanian di Kecamatan Duhiadaa yang mencapai sekitar 1.374 hektare, lebih dari 900 hektare berada di wilayah Duhiadaa.

Namun, aktivitas tanam di wilayah tersebut terus mengalami penurunan.Pada periode 2024 hingga 2025, lahan yang masih dapat diproduktifkan hanya berkisar 15 hingga 20 persen.

Memasuki akhir 2026, kondisi tersebut disebut semakin memburuk hingga petani nyaris tidak lagi dapat melakukan aktivitas tanam.

Abdul Rahman menyebut persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan bibit maupun alat pertanian, melainkan kerusakan jaringan irigasi akibat sedimentasi serta kondisi air bendungan yang keruh dan berlumpur.

Kondisi itu membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air. Bahkan, sebagian petani yang mencoba beralih menanam komoditas lain juga menghadapi persoalan serupa.

Di tengah kemarau, sejumlah petani mencoba menanami lahan dengan jagung. Namun, tanaman tersebut juga dilaporkan mengalami kekeringan hingga mati akibat minimnya pasokan air.

Akibat kondisi tersebut, sebagian petani bersama anggota keluarganya terpaksa mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mereka antara lain bekerja sebagai buruh harian, pemetik, hingga pengorek kelapa milik warga lain.Situasi ini menunjukkan bahwa dampak lumpuhnya produksi pertanian tidak hanya dirasakan oleh keluarga petani, tetapi mulai merembet ke sektor perdagangan dan ketersediaan pangan di Kabupaten Pohuwato.

Ketika produksi beras lokal menurun, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah semakin besar. Kondisi tersebut pada akhirnya turut meningkatkan biaya distribusi dan berpotensi menekan harga beras di tingkat konsumen.