WARTANESIA.ID – Pemerintah mulai menyiapkan langkah besar di sektor energi rumah tangga. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penggunaan LPG tabung 3 kilogram bakal perlahan digantikan dengan CNG (Compressed Natural Gas) mulai tahun ini.
Kebijakan tersebut disiapkan sebagai upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor yang selama ini membebani anggaran negara melalui subsidi triliunan rupiah.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengungkapkan, pemerintah kini tengah mematangkan seluruh persiapan teknis sebelum CNG diterapkan secara luas di masyarakat.
“ Tahun ini,” kata Laode saat ditemui di sela acara “CNG & LNG untuk Rakyat” di Jakarta, dikutip dari Antara.
Berbeda dengan LPG, CNG memiliki tekanan gas jauh lebih tinggi. Jika LPG berada di kisaran 5 hingga 10 bar, maka tekanan CNG mencapai sekitar 250 bar. Karena itu, pemerintah menyiapkan desain tabung khusus berukuran kecil yang aman digunakan di rumah tangga.
Menurut Laode, faktor keamanan menjadi perhatian utama pemerintah sebelum program dijalankan.
“Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kami lakukan, kemudian uji tekanan, dan lain-lain. Ini memang faktor yang paling penting,” ujarnya.
Pemerintah pun memilih memulai distribusi di kota-kota besar Pulau Jawa sebelum nantinya diperluas ke seluruh Indonesia.
“Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Tahun ini,” kata Laode.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menilai penggunaan CNG sebenarnya bukan teknologi baru. Selama ini, gas tersebut sudah digunakan di sektor hotel, restoran hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski masih menggunakan tabung berukuran besar.
Yang paling menarik, pemerintah mengklaim penggunaan CNG mampu memangkas subsidi negara hingga 30 persen dibanding LPG 3 kilogram.
“Dengan konten yang sama, dengan harga yang sama dengan LPG 3kg, kita bisa menghemat 30 persen. Subsidinya lebih rendah daripada subsidi LPG,” ujar Laode.
Menurutnya, selama ini LPG menjadi beban ganda bagi negara karena selain disubsidi, sebagian besar pasokannya juga masih harus diimpor.
“Jadi, ada dua beban sebenarnya dari LPG. Sudah subsidi, dia impor. Ini ada devisa juga kita keluarkan,” katanya.
Sebaliknya, CNG berasal dari gas bumi domestik yang dinilai melimpah di Indonesia, termasuk dari cadangan baru yang ditemukan di Kalimantan Timur. Pemerintah melihat hal itu sebagai peluang besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Meski akan terjadi perubahan sumber energi, masyarakat disebut tidak perlu membeli kompor baru. Pemerintah memastikan CNG tetap bisa digunakan pada kompor rumah tangga yang selama ini memakai LPG.
“Kompor tidak perlu diganti, tinggal plug, sudah mengalir. Tadinya pakai LPG, sekarang pakai CNG,” ujar Laode.
Ia bahkan mengaku telah melihat langsung penggunaan tabung CNG tipe terbaru yang bisa dipasang tanpa modifikasi tambahan.
“Saya sudah menyaksikan langsung penggunaan tipe 1, valve-nya langsung bisa, bahkan tidak ada lagi modifikasi di kompor. Langsung plug and play, nyala kompor itu dengan CNG. Dan apinya lebih biru malah kalau saya perhatikan,” katanya.
Saat ini, pemerintah masih melakukan uji coba tabung CNG ukuran kecil yang diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan sebelum diputuskan layak digunakan secara massal.
Jika program ini berjalan sesuai rencana, maka CNG berpotensi menjadi energi alternatif baru bagi rumah tangga Indonesia sekaligus mengurangi dominasi LPG impor yang selama ini membebani APBN.













