WARTANESIA.ID – Aksi demonstrasi yang digelar puluhan sopir truk kontainer di kawasan Simpang Lima, Kota Gorontalo, nyaris ricuh setelah sekelompok warga yang di pimpin Rinto CS mendatangi lokasi dan membubarkan masa aksi secara paksa, Senin sore (25/05/2026)
Aksi yang digelar Aliansi Peduli Energi Gorontalo tersebut sebelumnya dilakukan dengan memblokade ruas jalan utama di Simpang Lima, sebagai bentuk protes terhadap persoalan distribusi solar bersubsidi yang dinilai belum mampu dituntaskan oleh aparat penegak hukum maupun instansi terkait.
Dalam aksi itu, para sopir truk memarkir kendaraan kontainer melintang di badan jalan sehingga arus lalu lintas di salah satu titik terpadat di Kota Gorontalo lumpuh total. Massa menilai praktik mafia solar masih marak terjadi, dan berdampak langsung terhadap para sopir angkutan yang kesulitan memperoleh bahan bakar untuk operasional.
Blokade jalan berlangsung lebih dari tiga jam dan menyebabkan antrean kendaraan mengular dari berbagai arah. Sejumlah pengendara terpaksa mencari jalur alternatif untuk menghindari kemacetan panjang di sekitar lokasi aksi.
Situasi mulai memanas sekitar pukul 16.04 Wita ketika sekelompok orang tiba di lokasi demonstrasi dan meminta massa aksi segera membuka akses jalan. Kelompok tersebut mengaku mewakili masyarakat yang merasa dirugikan akibat penutupan jalan yang terlalu lama.
Ketegangan pun tak terhindarkan. Adu mulut sempat terjadi antara massa aksi dan kelompok yang datang membubarkan demonstrasi. Bahkan, situasi nyaris berujung bentrokan setelah beberapa orang dari kelompok tersebut disebut mengancam akan membakar truk kontainer yang digunakan untuk memblokade jalan apabila akses tidak segera dibuka.
Ancaman itu memicu kepanikan di lokasi aksi. Beruntung aparat kepolisian yang sejak awal berjaga di sekitar Simpang Lima langsung mengambil langkah pengamanan, untuk mencegah bentrokan terbuka antara kedua kelompok.
Petugas berusaha menenangkan situasi dan memediasi kedua belah pihak agar konflik tidak meluas. Negosiasi berlangsung cukup alot karena massa aksi tetap bersikeras mempertahankan blokade, sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintah dan aparat terkait persoalan solar bersubsidi.
Setelah melalui pembicaraan panjang, massa akhirnya bersedia membuka blokade jalan secara bertahap. Satu per satu truk kontainer dipindahkan dari badan jalan sehingga arus lalu lintas kembali normal.
Usai pembukaan jalan, massa aksi membubarkan diri dengan pengawalan aparat kepolisian. Hingga aksi berakhir, situasi di kawasan Simpang Lima Gorontalo dilaporkan kembali kondusif meski sempat diwarnai ketegangan antara demonstran dan kelompok masyarakat yang datang ke lokasi.


