WARTANESIA.ID – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Gorontalo mulai berdampak pada aktivitas dan pendapatan sopir angkutan umum.
Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengangkut penumpang kini tersita untuk mengantre BBM. Kondisi ini membuat waktu operasional sopir berkurang, sekaligus membatasi kesempatan mereka memperoleh penghasilan harian.
Salah satu sopir yang merasakan dampak tersebut adalah Imran Jaini, yang setiap hari melayani rute Limboto–Kota Gorontalo.
Ia mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Padahal, waktu tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang dan menambah pendapatan.
“Dalam sekali pengisian, saya biasanya mendapatkan 15 hingga 20 liter BBM. Namun, lamanya antrean membuat aktivitasnya sebagai sopir angkutan umum menjadi terganggu,” Jelas Imran.
Dampaknya, pendapatan yang diperoleh Imran mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Berkurangnya waktu untuk beroperasi membuat kesempatan mendapatkan penumpang ikut terbatas.
Bagi kami sopir angkutan umum, waktu operasional menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pendapatan harian. Semakin banyak waktu yang tersita untuk mengantre BBM, semakin berkurang pula kesempatan mereka untuk mencari penumpang,” Ujarnya.
Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian pihak terkait agar persoalan antrean BBM di Gorontalo segera ditangani.
Dengan demikian, aktivitas masyarakat, khususnya sopir angkutan umum yang menggantungkan penghasilan dari jasa transportasi, dapat kembali berjalan normal tanpa kehilangan banyak waktu produktif akibat antrean panjang.








