Site icon WARTANESIA

Tak Cukup Sekedar Boikot Produk Yahudi

Oleh : Devina Nurlatifa (Aktivis Muslimah)

Serangan zionis Yahudi terhadap Palestina semakin membabi buta. Hanya dalam waktu 5 bulan pembataian tersebut telah mengakibatkan hampir 30.000 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 69.000 orang terluka. Akibat pembataian tersebut pengawasan terhadap produk-produk zionis Yahudi dikalangan muslim meningkat. Menjelang Ramadan, sejumlah perusahaan kurma asal zionis ketar-ketir produk buatannya tak laku di masyarakat. Pasalnya, ajakan boikot produk zionis masih terus menggema di dunia akibat pembataian terhadap Palestina.


Zionis Yahudi adalah salah satu Negara pengekspor kurma. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian zionis Yahudi, nilai ekspor kurma mencapai 338 juta USD pada 2022 dibandingkan dengan ekspor buah-buahan lainnya senilai 432 juta USD. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, pada 2017, zionis Yahudi memproduksi 136.956 ton kurma dengan nilai eskpor 181,2 juta USD. Ada 5 perusahaan kurma zionis Yahudi dengan nilai ekspor terbesar, yakni Hadiklaim dengan merek dagangnya Jordan River dan King Solomon, Mehadrin, Galilee Export Carmel Agrexco dan Agrifood Marketing dengan merek Star Dates.


Menjelang Ramadhan ini, ramai di social media seruan untuk memboikot kurma dari zionis Yahudi. Bukan saja karena kurma itu ditanam di tanah Palestina yang dicuri, namun proses produksinya pun dilakukan dengan cara memperbudak orang Palestina. Mereka memperkerjakan anak-anak di di bawah umur, yang dianggap lebih gesit memanjat pohon kurma, mudah ditipu dan dibayar dengan upah sangat murah. Anak-anak itu harus bekerja selama 8 jam tanpa istrahat,, bahkan sekedar ke toilet. American Muslim for Palestine (AMP) yang pertama kali memprakarsai boikot nasional terhadap kurma zionis Yahudi selama Ramadhan 2012. AMP mengikuti seruan warga Palestina pada 2005 untuk melakukan aksi boikot tersebut. Boikot itu berhasil dan berdampak buruk pada industri kurma zionis Yahudi. Dari 10,7 juta kilogram yang diekspor ke pasar Amerika pada 2015-2016, nilainya turun menjadi 3,1 juta kilogram pada tahun 2017-2018. Maka untuk mengantisipasi hal yang sama terjadi pada tahun ini, dengan upaya melawan kampanye boikot, zionis Yahudi lalu bersiasat licik. Para produsen bekerja sama dengan buyer mengubah label produk untuk mengaburkan asal muasal kurma tersebut.

Boikot Produk Saja Tak Cukup

Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) menanggapi soal ramainya seruan boikot kurma dari zionis Yahudi menjelang bulan Ramadhan. Ketua Umum PBNU KH.Yahya Cholil Staquf mengatakan, bahwa aksi boikot produk yang berasal dari zionis Yahudi saja tidak cukup untuk dapat memberikan efek jera atau menghentikan serangan yang diluncurkan oleh zionis Yahudi terhadap rakyat Palestina.

Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia dan berbagai Negara di dunia harus melakukan langkah-langkah lain yang lebih akurat untuk dapat menghentikan penindasan yang dilakukan tentara zionis Yahudi.


Tujuan boikot ini adalah untuk mencegah adanya aliran dana dari konsumen muslim melalui produk pro Yahudi kepada entitas Yahudi. Jika dilakukan secara massif oleh seluruh rakyat Indonesia, apalagi muslim sedunia, diharapkan bisa membantu Palestina. Namun usaha yang dilakukan untuk membebaskan palestina ranahnya masih individu dan kelompok, baik dari segi boikot, pengumpulan donasi dan mengadakan doa bersama. Sehingga sampai hari ini solusi-solusi yang dilakukan belum efektif membebaskan rakyat Palestina dari penindasan yang dilakukan oleh zionis Yahudi.

Sebenarnya, gerakan boikot akan efektif jika dilakukan secara total oleh Negara. Pemerintah Indonesia bisa melarang produk-produk pro Yahudi untuk beredar di Indonesia, juga memutus hubungan dagang dengan entitas Yahudi tersebut dan Negara-negara pendukungnya, seperti Amerika Serikat. Tidak hanya itu, Indonesia bisa memutus hubungan diplomatik dengan semua Negara yang mendukung zionis Yahudi. Inilah bentuk boikot yang konkret.


Namun realitasnya Negara tidak melakukan boikot tersebut, meski sebenarnya bisa. Keengganan pemerintah memboikot produk pro Yahudi dikarenakan Negara terjajah secara ekonomi. Negara tergantung pada para kapitalis untuk menjaga investasi agar tidak lari ke luar negeri. Negara pun membuat regulasi yang menghamba pada kepentingan oligarki sehingga tidak berani memboikot produk mereka yang pro Yahudi.


Sesunguhnya Indonesia tidak hanya bisa memboikot produk pro Yahudi secara total. Lebih dari itu, Indonesia bisa mengirimkan tentara. Bukan sekedar untuk menjaga perdamaian, tetapi untuk melakukan jihad fi sabillillah menumpas penjajah Zionis Yahudi dan membebaskan Palestina. Indonesia sangat bisa melakukannya karena memiliki kekuatan militer yang cukup untuk mengalahkan zionis Yahudi. Itu semua hanya bisa dilakukan ketika memboikot ideologi yang menjadi landasan Negara pada hari ini yakni kapitalisme dan juga nasionalisme diganti dengan ideologi Islam.

Nasionalisme membuat umat muslim tersekat-sekat antar negara sehingga acuh terhadap penderitaan umat muslim di Palestina maupun dinegeri-negeri muslim lainnya seperti penderitaan muslim Uighur, Rohingnya dan lainnya. Akibat nasionalisme pula, umat muslim bagaikan buih dilautan tanpa ada persatuan maka kekuatan pun tidak ada, maka dengan mudahnya kita menjadi santapan barat tanpa adanya pelindung. Kondisi ini tidak akan pernah terjadi jika umat muslim bersatu dalam satu ideologi yang shohih yang Allah turunkan yakni Islam.

Umat Muslim butuh Sang Junnah

Ketika suatu negeri menerapkan ideologi Islam sebagai landasan Negara maka rakyat akan berpegang kuat pada akidah Islam yang memiliki pandangan bahwa umat muslim itu bagaikan satu tubuh. Sehingga ketika umat muslim disatu negeri seperti Palestina mengalami penindasan maka negeri muslim yang lain akan antusias merespon hal tersebut. Tentu bukan hanya dengan sekedar boikot produk pro Yahudi, atau sekedar mengirimkan bantuan donasi atau hanya doa tetapi untuk membebaskan palestina, umat muslim juga membutuhkan Negara adidaya yang dapat menyaingi zionis Yahudi dan pelindunganya (AS).

Satu-satunya Negara yang dapat menyaingi dan menghadapi AS hanya Negara Islam, yakni yang menjadikan ideolgi Islam sebagai landsannya. Negara Islam akan mengirimkan pasukan untuk membebaskan Palestina dari cengkraman zionis Yahudi, termasuk dari pengaruh AS. Negara Islam akan berperan sebagai Junnah (perisai) agar kaum muslim Palestina tidak teraniaya lagi.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai yang orang akan berpegang dibelakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah dan adil, maka dengannya dia mendapatkan pahala. Namun jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Semenjak runtuhnya daulah Utsmaniyah sebagai sang Junnah (perisai) pada 1924 sampai dengan hari ini, kaum muslim tidak lagi memiliki perisai. Bahkan umat muslim tidak bisa berharap pada Negara-negara bangsa meski jumlahnya banyak untuk mengirimkan pasukan membebaskan palestina. Umat juga tidak bisa berharap pada organisasi internasional, seperti PBB dan OKI yang terbukti mandul. Maka untuk menciptakan perisai itu kembali umat harus menyuarakan ideologi yang lebih layak untuk diterapkan yaitu ideologi Islam.

Agar Negara dapat mengemban ideolgi Islam maka harus menggencarkan dakwah. Dakwah yang dilakukan adalah dakwah pemikiran yang menjadikan rakyat berpegang kuat pada akidah Islam sekaligus menjadikannya sebagai Qaidah dan Qiyadah Fikriyah. Dakwah inilah yang dicontohkan Nabi SAW kepada umatnya.
Sejak masa Rasulullah telah merancang pembebasan wilayah Palestina (Al-Quds) dari penjajahan Romawi. Pembebasan itu terealisasi pada masa Khalifah Umar Bin Khaththab secara damai setelah beliau mengirimkan pasukan ke Al-Quds.

Daulah Islam kembali membebaskan Al-Quds, setelah sempat dikuasai pasukan salib, dengan mengirimkan pasukan dibawah komando Shalahuddin al-Ayubi pada 1187. Seperti inilah gambaran Negara yang menerapkan ideologi Islam. Negara akan berdaulat tanpa bergantung pada Negara lain apalagi yang pro terhadap zionis Yahudi. Dan pemimpin Negara akan bersikap tegas demi keselamatan rakyatnya.
Wallahu’alam Bishowwab.

Exit mobile version