Site icon WARTANESIA

Mengurai Masalah Pengangguran Melalui Pelatihan, Solutifkah?

Zunairah Fattiyah : Aktivis Muslimah

Pengangguran di Indonesia masih menjadi PR besar bagi pemerintah. Dikarenakan jumlahnya yang masih relatif tinggi. Menurut survei angkatan kerja nasional (Sakernas) pada Agustus 2023, pengangguran di Indonesia berjumlah 7,86 juta orang dari total angkatan kerja sebanyak 147,71 juta orang.

Mayoritas penganggur merupakan generasi muda yang berusia 15-24 tahun. Terlebih, setiap tahun bertambah kuota sarjana-sarjana baru yang bingung akan kerja dimana.

Masalah pengangguran dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Diantaranya minimnya akses pendidikan, kurang tersedianya lapangan pekerjaan, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang membuka pintu tenaga kerja asing masuk ke Indonesia.

Namun, dengan begitu pemerintah sudah berusaha untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Salah satu solusi pemerintah dalam menekan jumlah pengangguran adalah menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang dapat mengasah keterampilan.

Program ini sudah ditindaklanjuti oleh beberapa daerah. Diantaranya di Nganjuk, Pemerintah Kabupaten Nganjuk bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dengan menggelar pelatihan potong rambut atau barbershop. Harapannya peserta pelatihan mendapatkan pengetahuan praktis tentang teknik potong rambut, pemeliharaan peralatan, hingga mengelola usaha barbershop sehingga dapat merekrut pekerja baru. Kabarnya, pelatihan ini berlangsung selama 10 hari dan diikuti oleh 20 peserta. (Inews.ID, 15/02/2024).

Dilansir oleh TribunGorontalo.com, Disnakertrans Boalemo juga menggelar pelatihan untuk masyarakat dalam rangka merayakan Hari Pekerja Indonesia (Harpekindo) pada hari Selasa, 20 Februari 2024 kemarin.

Nurlaela Asnadi, Kepala Bidang Ketenagakerjaan dan Pelatihan Disnakertrans Boalemo mengatakan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan kepada pencari kerja agar dapat menjadi pelaku usaha mandiri.

“Kami akan mengadakan pelatihan tenaga kerja mandiri sekaligus memberikan bantuan alat untuk pelatihan tersebut,” ungkapnya pada TribunGorontalo.com, Selasa (20/02/2024).

Tidak hanya mengadakan pelatihan-pelatihan, Disnakertrans Boalemo juga akan melakukan kolaborasi dengan perusahaan dan pemerintah setempat untuk memanfaatkan tenaga kerja lokal. Meskipun demikian, Kepala Disnakertrans Boalemo Mans Mopangga mengatakan bahwa masih terdapat kekurangan perusahaan di Kabupaten Boalemo. Sehingga para pekerja lokal bekerja di luar daerah.

Sebenarnya, program pelatihan ini telah dilaksanakan di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, sejak tahun 2020 setelah masa Covid-19. Namun, apakah upaya ini dapat menyolusikan masalah pengangguran?
Solusi Pragmatis
Pada faktanya, pelatihan ini telah diadakan selama bertahun-tahun, namun jumlah pengangguran masih menganga. Alih-alih menekan angka pengangguran, nyatanya solusi ini hanya berhenti sampai pada pelatihan.

Masih banyak sarjana-sarjana berketrampilan namun hanya menyimpan rapi ijazahnya dilemari karena tidak adanya lapangan pekerjaan. Sementara, pekerja asing yang lebih berkompeten jor-joran masuk bekerja di perusahaan-perusahaan. Ini membuktikan, solusi ini adalah solusi pragmatis yang tidak menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya.

Sadarkah kita, penerapan sistem ekonomi kapitalisme menjadi sumber permasalahan tingginya angka pengangguran di negeri ini. Sistem buatan manusia ini menjadikan negara lalai dalam perannya sebagai pengurus rakyat. Setiap rakyat harus banting tulang peras keringat untuk menghidupi dirinya sendiri tanpa jaminan dari negara. Padahal, negara berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik, menyediakan lapangan pekerjaan yang luas, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya secara gratis. Namun sayang, negara hari ini hanya bertindak sebagai regulator yang dikendalikan oleh para pemilik modal. Sehingga peraturan berjalan sesuai kehendak mereka walaupun harus menaikkan harga-harga pangan, BBM, rumah, hingga mengutamakan pekerja asing dalam perusahaan mereka.

Adapun bagi sebagian rakyat yang sudah memiliki pekerjaan masih saja dihantui kemiskinan, sebab ketidaklayakan gaji yang diterima untuk memenuhi kebutuhan primer.

Secara prinsip, pengangguran yang terjadi dalam sebuah negara disebabkan oleh faktor individu dan sistem. Dari sisi individu, disebabkan karena kemalasan, cacat, dan rendahnya pendidikan. Rendahnya pendidikan mendominasi masalah pengangguran, sebab mahalnya biaya pendidikan.  Sedangkan faktor kedua adalah penerapan sistem Kapitalisme.
Meningkatnya pengangguran dalam system Kapitalisme disebabkan ketimpangan antara penawaran tenaga kerja dan kebutuhan. Dalam artian tidak adanya kesesuaian antara  kesempatan kerja dengan keahlian yang dibutuhkan. Sehingga kesempatan yang ada terus diisi oleh pekerja asing.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang pro konglomerat. Indonesia yang merupakan negara yang memiliki keberlimpahan sumber daya alam telah dikuasai para kapitalis. Sehingga rakyat hanya mendapatkan secuil dari pemberdayaan sumber daya alam.

Solusi Islam

Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah dalam menyolusikan masalah pengangguran. Namun, ada satu solusi yang belum dicoba pemerintah. Yaitu solusi Islam. Ya, Islam merupakan agama sekaligus solusi masalah kehidupan. Baik masalah sosial, politik, pendidikan, maupun ekonomi. Dalam Sistem ekonomi Islam, memiliki prinsip kepemilikan yang khas yang membagi kepemilikan individu, umum, dan negara. Sehingga sumber daya alam yang melimpah ruah ditetapkan sebagai kepemilikan umum atau milik semua rakyat. Dikelola oleh negara dan hasilnya dicurahkan untuk seluruh rakyat. Diantaranya memenuhi kebutuhan pangan, sandang,papan, keamanan,pendidikan, dan kesehatan. Selain itu, negara dalam Islam membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya  dan melakukan industrialisasi dalam negeri melalui pembuatan alat-alat industry.

Syeikh Abdurrahman al-Maliki menyatakan,  “Untuk menjadi negara Industri ditempuh satu jalan saja, yaitu menciptakan industri alat-alat penghasil mesin. Dengan adanya industry alat-alat ini akan tumbuh industri-industri yang lain.”

Penerapan Islam dimasa kejayaan dulu menghasilkan berbagai industri. Diantaranya industry mesin,tekstil,bahan bangunan, kertas, perkapalan,kimia, kulit, pertambangan dan masih banyak lagi. Semua itu dikelola oleh negara tanpa kerja sama dengan oligarki.

Dengan demikian, terbuka lebar lapangan pekerjaan bagi seluruh rakyat. Dalam pendidikan Islam pun, rakyat dibentuk berlandaskan kurikulum  akidah Islam. Memiliki pemahaman agama dan keahlian dalam IPTEK, sehingga tidak perlu lagi menyediakan pelatihan-pelatihan. Sebab, baik teori maupun praktek telah didapatkan di bangku pendidikan. Inilah Islam dalam meneyelesaikan masalah pengangguran dan kemiskinan secara mengakar. Wallahu’alam bishowab.

Exit mobile version