WARTANESIA – Nelayan di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, dihebohkan dengan penemuan satu keluarga warga negara asing (WNA) asal Filipina yang terdampar di perairan laut lepas.
Operasi penyelamatan yang dilakukan nelayan setempat berlangsung dramatis dan penuh empati kemanusiaan.
Sebanyak 15 warga Filipina yang merupakan satu rumpun keluarga ditemukan dalam kondisi lemas, kelaparan, dan dehidrasi di atas sebuah speedboat yang terombang-ambing di tengah laut.
Mereka diduga telah berhari-hari kehabisan bekal makan dan minum, dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan akibat sengatan matahari.
Harapan pun merekah di wajah para penumpang perahu ketika melihat kapal nelayan asal Buol yang dikemudikan Muhammad Rusman, yang akrab disapa Cici.
Melihat kapal nelayan mendekat, kepala rombongan warga Filipina yang diketahui bernama Bandir langsung berteriak meminta pertolongan.
Tanpa ragu, Cici mengarahkan kapalnya mendekati speedboat yang hampir hanyut tak terkendali tersebut.
Dengan peralatan seadanya, para nelayan Buol melakukan penyelamatan dengan menarik perahu warga Filipina menuju dermaga nelayan terdekat.
Satu Keluarga, Termasuk Bayi 6 Bulan Warga negara Filipina yang terdampar tersebut diketahui merupakan satu keluarga besar yang terdiri dari 7 orang dewasa dan 8 anak-anak serta balita, termasuk seorang bayi berusia 6 bulan.
Rombongan keluarga nelayan itu dipimpin oleh Bandir, yang berasal dari Kepulauan Tawi-Tawi, Filipina.
Kronologi Musibah di Laut Lepas
Bandir menceritakan awal mula musibah yang menimpa keluarganya. Menurutnya, mereka berangkat dari Semporna, Sabah, Malaysia, menuju Tawi-Tawi, Filipina, untuk menghadiri hajatan keluarga.
Perjalanan laut dimulai sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat dengan estimasi tempuh sekitar delapan jam.
Namun, cuaca buruk dan badai di perairan lepas membuat perahu kecil yang mereka tumpangi dihantam gelombang tinggi hingga nyaris tenggelam.
Pada hari kedua pelayaran, perahu mulai oleng dan kemasukan air. Demi menyelamatkan diri, seluruh penumpang terpaksa membuang barang bawaan ke laut, termasuk mesin perahu, untuk mengurangi beban.
Dalam kondisi darurat tersebut, seorang anak Bandir berusia 27 tahun nekat melompat ke laut dengan berpegangan pada jeriken, disusul oleh suami dari Ibu Lisa.
Keduanya berupaya berenang menuju daratan yang masih berada di wilayah Malaysia.
Sementara itu, Bandir memilih bertahan bersama anggota keluarga yang tersisa. Dalam keputusasaan, ia menguatkan rombongan untuk bertahan hidup dengan meminum air hujan dan mengonsumsi sisa biskuit bekal perjalanan.
Tanpa mesin, Bandir hanya mengandalkan tutup ember sebagai alat dayung. Selama 13 hari mereka terkatung-katung di laut, pasrah mengikuti arah angin dan arus, menyerahkan hidup pada takdir.
Kelaparan, kehausan, dan teriknya matahari membuat kondisi mereka semakin melemah. Tangisan anak-anak dan balita terus terdengar, menambah pilu perjuangan bertahan hidup di tengah samudra.
Diselamatkan Nelayan BuolPada hari ke-13, harapan kembali muncul ketika mereka melihat sebuah kapal nelayan melintas.
Dengan sisa tenaga, Bandir melambaikan tangan dan berteriak meminta pertolongan.
“Waktu melihat kapal itu, rasa lapar saya seperti langsung hilang,” ujar Bandir dengan mata berkaca-kaca.
Muhammad Rusman alias Cici mengaku terkejut saat melihat perahu asing sarat penumpang dalam kondisi lemas. Ia bersama rekan-rekannya saat itu tengah mencari ikan di sekitar rakit.
“Saya curiga itu bukan perahu Indonesia. Saya pernah lama tinggal di Malaysia, jadi tahu cirinya. Saat didekati, terlihat banyak orang sudah sangat lemah,” tutur Cici.
Tanpa berpikir panjang, seluruh korban dinaikkan ke kapal nelayan. Mereka langsung diberi makanan dan minuman untuk memulihkan tenaga.
Para korban ditemukan pada Kamis (22/01/2026) sekitar pukul 08.00 WITA, dengan posisi sekitar 72 mil laut dari Dermaga Tambatan Perahu Poyapi.
Speedboat korban kemudian diikat dan ditarik menuju daratan, tiba di Dermaga Poyapi sekitar pukul 18.30 WITA.
Petugas gabungan kemudian mengevakuasi para korban ke RSUD Mokoyurli Kabupaten Buol untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Dari total 17 WNA Filipina yang terdata, dua orang tidak menjalani rawat inap karena kondisinya relatif stabil meski mengalami kelelahan dan kelaparan.
Gerak cepat Pemerintah Kabupaten Buol bersama Dinas Sosial, BNPB, TNI, Polri, Satpolairud, DLH, Satpol PP, serta masyarakat Kelurahan Buol patut diapresiasi.






