Secangkir Kopi Pahit Yang Terlalu Manis

Kisah Secangkir Kopi Pahit Yang Terlalu Manis.

Di suatu hari, seorang Ayah sedang duduk bersantai menikmati udara pagi dengan anak lelakinya. Sang Ayah menatap lekat si anak lelakinya, ia menghela nafas panjang menyadari si anak telah tumbuh semakin besar, beranjak remaja.

Ayah : “Nak, tolong buatkan kopi dua cangkir untuk kita, tapi gulanya jangan langsung kamu campur dulu, bawa saja kesini gulanya.”

Anak : “Baik, ayah.”

Tak berselang lama, si anak lelaki itu sudah membawa dua cangkir kopi dan gula di dalam wadahnya beserta sendok kecil.

Ayah : “Cobalah kamu rasakan kopimu nak. Bagaimana rasanya?”

Si anak mengangguk patuh dan kemudian menyeruput kopinya …

Anak : “Rasanya sangat pahit sekali ayah.”

Sang Ayah tersenyum …

Ayah : “Sekarang kamu tuang sesendok gula, lalu aduk, bagaimana rasanya?”

Anak lelaki itu melakukan apa yang dikatakan ayahnya …

Anak : “Hmmm … Rasa pahitnya sudah mulai berkurang, ayah.”

Ayah : “Tuang satu sendok gula lagi, aduk dan coba kamu rasakan, bagaimana ?”

Anak : “Sekarang pahitnya berkurang lebih banyak, ayah.”

Ayah : “Tuang sesendok gula lagi, lalu kamu aduk, bagaimana rasanya?”

Anak : “Sekarang lebih terasa manis, tapi pahitnya juga masih sedikit terasa, ayah.”

Ayah : “Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?”

Anak : “Rasa pahitnya sudah hilang, yang ada cuma rasa manis, yah.”

Ayah : “Kamu tuang lagi satu sendok gula, coba bagaimana rasanya?”

Si anak keheranan dengan perintah ayahnya, sembari tetap melakukannya …

Anak : “Sangat manis, ayah.”

Ayah : “Tuangkan sesendok gula lagi, aduk, bagaimana rasanya?”

Anak : “Sekarang benar-benar terlalu manis, yah. Malah jadi tidak enak rasanya. lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa, ayah.”

Sang Ayah tersenyum pada anak lelakinya itu …

Ayah : “Nak, kamu sudah mulai besar … Sudah saatnya kamu mulai belajar tentang kehidupan. Pelajaran yang dapat kita ambil dari kopi dan gula tadi adalah … jika rasa pahit kopi ibarat kesulitan yang ada dalam hidup kita, dan rasa manis gula adalah kemudahan, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa?”

Sejenak sang anak tertegun dan termenung, lalu menjawab …

Anak : “Kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kesulitan dan kemudahan itu ada dan seimbang dalam hidup kita. Sekarang aku paham, kenapa Ayah selalu menyuruhku untuk bersyukur atas segala hal yang terjadi, baik itu saat aku kesulitan ataupun mendapat kemudahan. Karena kita tidak akan merasakan nikmatnya jika tidak bersyukur …”

Sang Ayah tersenyum sembari mengusap rambut anaknya … Di dalam hati ia berkata, “Kamu benar-benar sudah besar, Nak …”